Kami tak sempat protes terhadap Tuhan
Atas pekerjaan berat menghujam badan
Kulit dan kuku gosong terkelupas nyata
Mengangkut kuintal semen dan batu bata
Kami tak sempat mencaci pemerintah
Atas begitu minimnya standar upah
Tangis anak menjerit meminta sepeda
Adalah perih terdalam menyesak dada
Kami tak pernah luput dan lupa bersyukur
Walau keringat hitam kian mengucur
Atas senyum kecil menerima upah harian
Walau hanya cukup untuk sehari makan
Kami hanya merasa manusia, karena badan tak sia-sia
2 komentar:
Puisi bagus ... keren ...
Mantap
Posting Komentar