Selasa, 17 Juli 2012 0 komentar

BARISAN PUISI YANG GUGUR SATU-SATU




1/
Kita mulai jarang melafalkan sabda. Dengan kepintaran paling purba. Saat kokok ayam timur sunyi. Kau memilih berpuisi. Sedang aku, sibuk memilih kata-kata. Hingga akhirnya semua ku buang. Setelah melihat nyata tergambar. Ingin pun hambar. Garis putus tanpa titik temu. Menggores pena aku terkadang jemu

2/
Dalam satu lingkaran, otak kita melayang. Masa lalu tertawa terbayang. Menghablur, melarut, melebur. Menyesali hari ini puisi adalah sebuah baris tanpa makna. kau terlihat menitip mata yang kosong. Pada tatapmu shubuh tadi. Sebelum ribuan sesal kau pahat dalam pucuk rindu paling jahat.

3/
Tak jarang aku disini menyesali. Memaki-maki jalan diri. Sebab mimpi lama berubah nama. Wajah-wajah abstrak demikian berserak. Kejujuran dibalas pahit paling sengit. Ketulusan berganti benci yang caci. Lantas buat apa aku berpuisi. Menggetar-getarkan sejumlah diksi sakti. Melafas-lafaskan barisan mimpi tak teramini. Jika di sekeliling, sebagian besar orang mulai pintar beretorika, ratusan jiwa menjelma sebagai pesulap. Yang hitam menjadi putih dalam sekejap.

4/
Maka, di sela sadarku shubuh tadi. Lembaran-lembaran puisi itu terbakar. Menghitam menjadi abu. Berterbangan umpama debu. Bait-baitnya mulai tak beraturan. Rima-rima apik tampak munafik. Metafora semakin berpura-pura. Makna dan definisi enggan dimengerti. Aku rebah dalam sujud, menangis dan menyadari kau tak ada. Kau tak pernah ada. Selamanya takkan pernah ada.

2012
0 komentar

J A M U A N




Sehangat nasi di meja makan, hatimu masih menggerutu memaki-maki. Menggelinding gumpalan dendam yang kau tata utuh. Serupa belati yang siap menerkam memakan ulu hati. Senyummu menggambarkan sejumlah kesal dan rasa tak teramini. Menatapku dengan tajam yang masih diam tak bergeming.

Jamuan di meja makan kau suguhkan dengan lantang. Hujan, badai, gemuruh adalah menu yang harus kau tuntaskan. Seraya membasuh tanganmu siap menikam sebilah pisau yang telah lekat di namaku. Sayap-sayapku mulai beku. Karena aku gagu dalam mencintaimu.

Piring, garpu, cangkir semua melebur. Kepingan hatiku mulai hancur. baiklah, kau putuskan membunuhku sebelum melihat jantungku. Karena segenggam maaf tiga hari lalu terlanjur busuk. Karena cinta terdalamku hanya membuatmu hina. Demikian kau rasa.

Dik, aku akan berdiam. Menikmati setiap cacian. Karena namamu terlanjur dalam mengukir di kalbu. Tikam saja tepat di dada. Karena ku yakin kau melihat dirimu sedang bermain layang-layang disana.

2012
0 komentar

PENGUASA




Tuan, ilalang ini harus diinjak
Agar tak menanggalkan jejak.
Kita akan menoreh sejarah
Menuang-nuang cerita rekayasa
Duri-duri kita matikan
Agar cita berjalan seperti tujuan”.

“Kita bangun prasasti paling sunyi.
Jangan hiraukan segala bunyi.
Kita lukis setiap mata dan wajah
Di lorong-lorong kecil nan gagah
Seperti nabi tak pernah salah
Agar orang-orang terlanjur mengenali
Lebih tenar dari selebriti atau bintang iklan kopi”.

“Tuan, ranting-rantingmu kian meninggi
Terbanglah, jangan pernah peduli
Sebab di ujung sana, rakyat-rakyat mulai
Bersujud memuja-muja bangga.
kita tertawa antara kelakar dan singgasana
Kalian datang saja kerumah tuanku,
Karena setiap celah dan sudut rumah
Ada beberapa lembar uang bisa kalian jarah”.

2012
0 komentar

BEKU




Kau memilih diam
Sebab katamu cinta tak perlu diucap
Kau kibaskan pula sayap
Aku wanita. Aku butuh cinta nyata
Butuh langit memberi naungan.
Cukup aku terluka
Saat cinta pertama menanggalkan
segala kecewa

Matamu tak berpejam, nanar
Maka sedetik hatimu entah kemana
Kudiamkan saja,
Sebab cintaku tak pernah cukup
Membebaskanmu dari rasa takut
Menenangkan hatimu yang kalut
Sekilat seperti berkabut
Angan dan rinduku kian larut
Kau memilih meninggalkan
tanpa segenap kenangan

Lalu aku mengutuk diri
Sendiri tanpa teman berbagi
Angan-angan lama yang tak pernah sampai
Patah-patah hati yang sering menghinggapi
Dedaunan kering menghampiri
Rinduku ranggas mengering
Cukuplah kau tinggalkan sekali
Aku bisa mengerti. Asal jangan berkali.

Maka esok hari kau tak kutemui pasti
Di nyata pun di mimpi.

2012
0 komentar

MENGENANG




Aku mulai mencintai
Membakar api
Mengurung-ngurung diri
Pada sebuah dimensi
Dimana hati adalah raja
Mencintaimu tak sengaja

Kau lihatlah bulan
Pandangi dan coba gali
Karena cinta tak disadari
Cinta itu melebur
Dalam tanah gembur
Hati menghablur
Tapi kau menghalangi

Cukuplah aku mengenang
Tanpa pernah menangisi

2012
0 komentar

PETUAH PAPUQ TUA




Bibirnya yang retak mulai menggetar suara serak
Tak kutangkap pula makna dan maksud arahnya
Bahasa Indonesia yang terlontar terbata-bata
Tergambar ia lupa mengenyam sekolah dulu kala

‘Cinta, kebahagiaan dan Jodoh adalah aturan-Nya.
Kita hanya berjalan mencari menemu Ridho-Nya. 
Tinggalkan ia. Bukan bermaksud menyalahi Tuhan.
Tapi ini adalah gambaran sebelum kau menyulam rugi.
Sebelum kau menghitung tumpukan sesal”.

Tatapnya tajam seperti tau semua gambaran
Perempuan itu harus kau tinggalkan
Perempuan itu adalah petaka di liku hidupmu,
Karena perempuan sebenar perempuan adalah
yang bisa menuntun lelaki ke surga paling hakiki

2012

Papuq = Kakek (Bahasa Sasak)
0 komentar

KEPADA SI FATIH



Tangkap angin itu, kita akan bermain layang-layang
Menjauh dan terbang dari segala hitam bayang
Tanganmu seperti retak dalam sejumlah petak
Sebulir angin terlepas tak mampu tertangkap

Helai-helai rambut yang masih tersisa
Baiknya kau bakar perlahan tanpa tergesa
Nyanyian lazuardi dan selembar surat cinta
Kau benamkan saja dalam laci-laci masa lalu

Juga perempuan yang masih ingin kau pandangi
Segenap tai lalat mengukir manis wajahnya
Biarkan angin menerbangkan barisan namanya
Menyusuri lorong-lorong kecil di kuncup bunga

Ada dara muda dengan wajah merah merona
Tutup saja semua kisah yang menyebut manjanya
Tentang kau mengiring langkahnya dengan roda dua
Tak menemu jalan kecil ke halaman rumahnya

Hari ini, rangkaian kata menemu baris menuju bait
Alasan bunuh diri semakin kuat
Mohon jangan kau penat

2012
0 komentar

BIBI AYUNI



Di mata itu, ada ingatan tentang beberapa lilin
Nyanyian ulang tahun dengan irama tak merdu
Kue kecil yang bergeser tersapu liris gerimis
Wajah perempuan risau menyimpan butir tangis

Air mata yang terlampau tergenang dalam teh manis
Ia aduk sekali lagi dengan ketegaran dan kemalangan
Dua lelaki di depannya seperti buta akan jalan pulang
Karena pintu masih tertutup dan air danau tetap mati 

‘Hati yang kau cari masih bermain dengan belahannya’
Begitulah pemaparannya dengan nada setengah suara
Sembari kue-kue ia benamkan dalam kilauan piring
Memandang lekat ke mata lelaki yang tampak kering

Dari sebuah pesan masuk, 
“Pulang saja, kau takkan bisa menemuiku’

Perempuan setengah baya itu seperti tau
Rindu dua lelaki itu terbunuh pelan-pelan
Seperti danau yang menyimpan 
sejuta kepedihan terdalam

‘Pulanglah Nak, Rindu itu akan menuntunnya padamu’

2012

0 komentar

DI RUMAH PAKDE




Pernah kutemui cinta yang diam
Tanpa suara dan lembaran uang
Di kamar gelap ia biasa lelap
Melafaz-lafaz doa selepas sembahyang

Kuintal-kuintal beras terpajang
Penyambung hidup nan panjang
Hasil sawah yang tak mewah
Satu-satunya harta yang bersisa

Di teras berukuran sempit
Kasih sayangnya tak pernah terhimpit
Sesekali Pakde bertutur
sambil mengusap daki yang luntur
“Di rumah ini, aku pernah menanam cinta
Pada wanita sederhana yang kukenal di Sweta
Ia memintaku melamar tanpa uang selembar
Ia memintaku menemani hidup agar tak redup
Ia memintaku tegar saat gelombang hidup bergelegar”

Senyumnya mengembang tanpa bimbang
Mengenang istri yang lebih dulu berpulang
Sembari melirik sumur yang tampak berumur
bahagianya jatuh ke kopi tubruk setengah lumur

2012

0 komentar

PANEN TEMBAKAU YANG GAGAL




Shubuh sekali, lelaki berjenggot tebal itu masih mencari Tuhan. Dikoyak-koyaknya sampah dipinggir kali, Tuhan tak muncul sesekali. Di dongakkan mukanya ke angkasa, Tuhan masih tak terasa. Maka Ia berjalan tertatih, seperti kuda tak terlatih. Hingga sampai di pohon rimbun, merebahkan tubuhnya yang tambun. Lelaki Tua itu menyulut sebatang rokok, saat ayam-ayam sepakat berhenti berkokok. Asap-asap mengepul, pertanyaan-pertanyaan di otak kian mengumpul.

‘Kau dimana?’ Sesekali bibirnya menggerutu berbisik kepada batu. ‘Jawab aku Tuhan’. Teriaknya kencang dengan nada lancang. Mata merah menampung gumpalan darah. Pipi mengkerut seiring air mata terlarut. ‘Kenapa kau bungkam Tuhan?’ Apakah kau penguasa takdir yang getir. Apakah kau pembuat cerita yang membuatku hidup terlunta. Apakah kau pengatur segala yang menuang kisah hidup yang cela.

Ketika siang matahari bersinar riang. sesosok mayat ditemukan di kali pertama kali. Seorang tua berjenggot putih dengan tatapan letih. Bola mata beku serta kaki tangan kaku. Dada kurus tak terurus. Rambut gimbal beralis tebal. Kerumunan orang berbisik tanpa mengusik, “Oh, Ia seorang gila. Setelah sang istri kabur selepas menyuapi bubur. Anaknya yang bujang bunuh diri telanjang. Hujan lebat tertinggal mewarnai panen tembakau yang gagal”. 

Juni 2012
0 komentar

PENJAGAL SAPI



Secuil dendam tertanam pada kokok ayam
Membuat dua mata harus terbuka pagi buta
Pisau-pisau tajam terasah menanti di jendela
Gerak-gerak angin shubuh dingin merajalela

Ia harus pergi keluar pintu tanpa selimut 
Mengayuh rindu pada meja berlumut
Karung-karung ia letakkan seperti mayat
Daging sapi mentah harus segera disayat

Potongan demi potongan ia gantung
Mulai kepala, kaki, leher dan jantung
Darah mengucur pada tanah berlumpur
Daging sapi segera dilepas dengan harga pantas

Maka, ujung mata pisau mulai berkarat
Seperti mata sapi tertutup dalam sekarat

2012
0 komentar

SEPENGGAL HIDUP SANG DUDA




Aku masih menatapmu dengan cinta yang sama
Tiga tahun setelah kau berpamit berpaling muka
Di senyummu aku masih menemu telaga subur
Sebatang beringin rimbun dan tanah gembur

Kau membawa segumpal kenangan-kenangan silam
Saat cinta memaksa kita mengarungi malam kelam
Tanpa kasur, keramik dan sebuah sofa empuk
Hingga tahun ke tahun cinta kita semakin lapuk

Di matamu, peta itu masih tergambar rumit
rumah sederhana yang tak kuat menaungi hidup hingga mati
sejengkal tanah yang tak bisa terbagi untuk anak cucu nanti

Angin membisik sebaris sesalmu,
‘Aku ingin pulang, sebab malam terlalu dingin,
dan pagi adalah sesal terdalam. Sebab cinta yang kau tanam
membuat rindu menggebu. Sebab kasih yang kau beri,
adalah anugerah terindah yang baru kusadari.
Sebab bersamamu adalah tangis yang paling manis’.

Bara api di dadaku mulai padam
menghanguskan ribuan batangan dendam

2012
0 komentar

MAK, AKU LUPA SEMBAHYANG




Mak, pagi tadi aku lupa sembahyang
Karena selimut lebih sejuk ketimbang wudhu’
Karena kasur terlampau empuk dari sajadah lusuh

Mak, apakah kau berdoa pagi tadi untukku
Atau mungkin mengutukku yang tak patuh atas pintamu
Yang tak pernah sujud dan jua mendo’akanmu

Air mata bening membendung tatapnya yang mendung
‘Nak, kau terlampau dewasa, hidup adalah pilihan nyata,
Ada orang jahat dan baik. Ada kerikil tajam setia menghujam.
Ada iblis dan malaikat. Imanmu harus kuat melekat’

Rintik air mulai jatuh pada pipinya yang runtuh,
‘Nak, sembahyang adalah mensyukuri. Atas nafas dan hidup yang diberi.
Sembahyang adalah pelindung baja. Bagi jiwa-jiwa kuat bersahaja’.

Ringkik lemah tangannya kembali merapikan mukenah,
‘Nak, ada surga dan neraka, kau tinggal berjalan memilih yang mana’.

2012
0 komentar

AYUNI




Surat yang ku kirim lewat pos kemarin sore
Lupa ku tempelkan selembar matre
Sebab cinta yang telah kubungkus
Adalah perasaan terdalam yang paling rakus

Aku mencintaimu,
Mungkin kata itu tak pernah sampai
Atau abjad-abjad penyusunnya terbang satu-satu
Tak jua singgah mengetuk-ngetuk hatimu
Mungkin pula, sebaris kata itu
Terlalu sederhana untuk kau fahami
Sebagai wanita

2012
0 komentar

Pantai Surga dan Sejumlah Rahasia Terjaga




Barangkali di sini, pucuk surat yang tak sampai
Memberi kabar kepada perempuan badan semampai
Bukit hijau yang kerap menyimpan sejumlah tanya
Akan menguak satu persatu tanda cintaku padanya

Kuingat pula semilir sentuh tanganmu nan dingin
Pada pucuk-pucuk daun kering jatuh tersapa angin
Ombak-ombak biru yang berdebur melebur karang
Seumpama getar rindu yang perlahan mulai garang

Dari bait ke bait puisi yang belum bisa rampung
Kutemukan bola mata, nama dan wajahmu mengepung
Perahu-perahu kecil mengapung tampak di pelupuk mata
Cinta padamu adalah satu-satunya perasaan suci bertahta

Di sini, di pesisir pantai Surga
Sejumlah rahasia tetap erat ku jaga
Tentang cinta dan rindu berjelaga

24 Juni 2012
0 komentar

ODE BUAT SYAIDATUL FITRIA MALINI




Shubuh tadi, ketika adzan memanggil
Ia bangkit menegakkan tubuh yang gigil
Membasuh segenap jiwa dan raga
Menemui Tuhan dalam suci sembahyang

Bunga mungil itu memilih dewasa
Aliran duka dan tawa ia rasa
Namun senyumnya tak jua gugur
Walau beribu tangis terbiasa menegur

Masihkah kau sebut nama Ibumu
Saat hujan memaksamu berteduh dalam sepi
Ibu yang memberi darah merah
dan senyum abadi seperti dewi
sebuah asal yang sempat memberi sesal

Ingin sekali mengunjungi rumahmu
Melihat malaikat dengan senyum memikat
Atau bidadari dengan wajah lembut berseri
Menjumpai asal yang mencipta
beberapa puisi di wajahmu
Barisan rima yang tersusun indah
antara garis hidung dan lentik matamu

dari jalan-jalan yang sering kau lewati
hidup adalah keindahan jika kau mengerti

2012
2 komentar

KULI BANGUNAN




Kami tak sempat protes terhadap Tuhan
Atas pekerjaan berat menghujam badan
Kulit dan kuku gosong terkelupas nyata
Mengangkut kuintal semen dan batu bata

Kami tak sempat mencaci pemerintah
Atas begitu minimnya standar upah
Tangis anak menjerit meminta sepeda
Adalah perih terdalam menyesak dada

Kami tak pernah luput dan lupa bersyukur
Walau keringat hitam kian mengucur
Atas senyum kecil menerima upah harian
Walau hanya cukup untuk sehari makan

Kami hanya merasa manusia, karena badan tak sia-sia

Juni 2012
0 komentar

URUNGNYA PERNIKAHAN SANG PUTRI




Malam ini sang putri harus berdiam di kamar
Walau dengan sekotak emas dan jutaan mahar
Meminang perempuan keturunan bangsawan
Dengan seribu mahkota pun wajah menawan

Rapat besar dua keluarga mulai buntung
Tiada sepakat semua diam mematung
Satu pihak menghendaki baju pengantin berlapis emas
Pihak lain masih menolak dengan berbagai cemas

Keresahan terpajang dari keluarga sang lelaki
Sebab sang putri akan diambil pulang ke kandang
Karena uang di lemari tak cukup membayar matanya
Emas di peti tak mampu menukar indah bibirnya
Sebuah rumah sederhana tak kan sanggup membeli nama
dan garis keturunannya

Juni 2012
0 komentar

KEMUNGKINAN DI KUNCUP BUNGA



Kepada Si Fatih

Ke Kuncup Bunga kah kita sore ini
Sembari menyulam dingin pada jemari
yang tak menyentuhnya ratusan hari
Angin -angan lama- yang belum hilang
dari bundaran mata dan detik kata
yang jauh menyimpan segenap rindu
dan luka ganjil pada kabut yang gigil

atau kita tunggu –tak jua kering- daun-daun
yang menyisa jejaknya pada bilangan embun
abjad-abjad namanya baru seperempat
kau hapus dalam berbagai sibuk yang padat
bahkan harum –angin gerimis- yang lewat
dari kibasan rambut hitam lebat

mungkin, ketika sampai di Kuncup Bunga
ada wanita –pesona lama nan manja- menyungging tawa
senyum tipis antara bibir yang manis
akan melambai –serupa badai- tangan mungilnya
‘Silahkan masuk, jangan ragu, cinta itu masih bulat
Seperti pertama kau membisik dekat tai lalat, “

Bahkan kemungkinan terganjil pula
Wanita –dengan pesona sama itu- mengunci gerbang
Membiarkan hati menangis dan jiwa tumbang

Juni 2012

Kuncup Bunga : Nama Sebuah Klinik di Selong
0 komentar

PEDAGANG PELECING



Dari jemarinya tomat-tomat itu melebur
Serupa angan dalam debur bergugur
Beberapa cabe, garam bercampur
Keringat letih yang enggan mengucur
Ia tumbuk kuat hingga hancur

Ajinomoto setitik saja ia tumpah
Kangkung segar halal hasil sawah
Hijau muda serupa mata yang binar
Walau penat ia sungguh terlihat tegar
Membungkus berbagai pesanan dengan benar

Mereka tak sempat menghitung ribuan jam
Waktu yang berdetak sebelum terpejam
Atas mimpi dan liku hidup yang kejam
Mengusir segala hari depan yang suram

Juni 2012 
0 komentar

WARUNG KOPI SAMPING PERTAMINA



Malam hitam selayak kopi tubruk
Di atas meja mendekati ambruk
Denting jam biarkan berputar
Meski dingin, bibir jangan gemetar

Air hangat tertuang tepat di jantung
Membakar hati dan ingin yang buntung
Silahkan di minum, sebelum jalanan ramai
Anak-anak malam keluyuran mencari damai

Saat kopi mulai hilang separuh
Resah itu akan lenyap nan luruh
Tingggalkan tempat ini sejenak
Sebab esok ribuan masalah tak lagi jinak

Juni 2012
0 komentar

PEMBUAT PATUNG



Sisakan beberapa genggam tanah liat
Kami ukir dengan hati dan jari giat
Meski alat sederhana kami bukan plagiat
Akan kami rampungkan secepat kilat

Karena hidup seperti mencipta patung
Ada puluhan rugi dan sekian untung
Ada ribuan masalah tak bisa terhitung

Kami tak takut menggubah berbagai bentuk
Walau kantuk terjaga semalam suntuk
Sebelum pagi anak-anak menangis ngeri
Sebab uang jajan lupa dititip di laci lemari

Juni 2012
0 komentar

KUE SERABI DAN PEREMPUAN BERSARUNG




Perempuan bersarung separuh baya. Badan tertutup lusuh kebaya. Masih asyik menuang tepung bercampur gula. saat gerimis menangisi sandekala. Ditangannya, sejumlah asap mengepul. Ramai pelanggan mulai muncul. Gerak lincah jemari membolak balik. Serupa penari Bali yang apik. Senyum terkembang dari bibirnya yang putih. Lembaran uang memudarkan segala letih.

Puluhan pembeli masih berjejer. Serupa gerak angannya yang geger. Semangat pun tak jua bergeser. Bungkusan-bungkusan siap ditukar dengan logam dan kertas. sebelum masuk dan berdiam dalam tas. Untuk senyum, baju dan sepatu anak yang pantas. Tatkala jarum jam di angka sepuluh. Ia mulai bersimbah peluh. Menemui anak dengan tawa tanpa setitik keluh.

Juni 2012

Sandekala : Waktu Menjelang Maghrib
0 komentar

KERESAHAN PUTRI BANGSAWAN




Aku putri bangsawan. Dengan sejumlah pesona menawan. Serupa lukisan Monalisa. Kulit mulus tanpa cela tersisa. Senyum manis tak ubah Hawa. Pengubah resah menjadi tawa. Bibir indah selayak Cleopatra. Hidung mancung tanpa pura-pura.

Aku titisan berdarah biru. Mencipta rindu di sela haru. Beri aku puji. Jangan titip segala janji. Yang kosong tanpa bukti. Sebab aku bermimpi tentang lelaki. Sederhana tak menyerupai nabi. Meminangku dengan hati suci.

Tapi mengapa ayah. Aku mulai resah. Tak satu jua lelaki singgah. Mereka segan dan mulai enggan. Mengenal dan mendekati. Apalagi mencintai dan mengikat hati. Merahkan saja darahku. Hilangkan pula segala gelar di namaku. Aku ingin biasa. Tanpa segala harta, mahkota, dan istana. Sungguh, aku hanya ingin biasa.

Juni 2012
0 komentar

SENJA MAKAM PAHLAWAN




Kita tak pernah tau nama-nama yang terpahat di batu nisan. Hanya sibuk menghitung dan menikmati ruas-ruas jalan. Kita tak pernah sadar arti perjuangan yang terlukis dalam sejarah. Sebab gedung tinggi dan sejumlah tempat rekreasi tiap pekan kita jarah. Kita terlalu sibuk menghitung dan menyimpan uang yang bertumpuk. Tanpa peduli nyawa mereka melayang saat peluru menembus tulang. Kita sungguh lupa terkadang alpa. Mengheningkan cipta dan berbagai puja.

Lalu, nama-nama itu perlahan hilang dalam senja yang lengang. Anak-anak yang mulai senang menghafal sebaris lagu cinta. Menanggalkan makna dan semangat pahlawan kita. Sepuluh November di Surabaya, Diponegoro meregang nyawa, Bandung menjadi api, semangat Cut Nyak Dien berapi-api. Ingatan-ingatan itu mulai sepi. Perlahan hilang menjadi bunga mimpi.

Juni 2012
0 komentar

PUTRI NELAYAN




Di mata gadis itu, aku melihat laut
Di tangannya ratusan layar terkembang
Ribuan ikan terjaring pada kelopaknya
Pesisir pantai indah terhampar di wajahnya
Senyum bapak yang letih tergambar
Pada setiap hela teriaknya,

“Bapak, tangkap yang banyak, kita hadiahkan
Kepada Tuhan, atas laut luas yang memberi puas,
Atas ikan-ikan segar penyambung hidup yang tegar”.

Keringat mengucur di pipi bapak yang uzur
Senyum tipis menebar seperti bunga mekar
“Nak, ikan ini adalah rezeki sang khalik,
Atas seragam sekolahmu yang menarik,
Atas tawa manjamu bersepeda di bawah terik,”

Sepuluh langkah gadis kecil itu mendekat
Memeluk sang bapak semakin erat
Tangannya masih memegang puluhan karang
Suara ombak begitu damai jauh dari irama perang

Juni 2012
0 komentar

Tentang Ayuni dan Beberapa Kerinduan




Mendung. Betapa semilir angin kian kunanti
Seraya kutuliskan beberapa larik isi hati
Pada selembar kertas hampa dan sepotong roti

Tentang kerinduan dan pesona matamu
Tentang mimpi dan cintamu yang dulu

Ayuni, bukankah kerinduan adalah kutukan
Bait pertama yang kutulis tanpa emosi dan tekanan

Lalu tanganmu memegang pena dan menggores
Rindu adalah titik hujan yang sering menetes

Kopi ini kuminum jua, bukankah cinta adalah sebuah rasa
Bukankah cinta adalah perasaan yang menuntunku tanpa memaksa

Gerak bibirmu menari, pena kian berjalan dan kau menulis
Cinta adalah batas pandang dari hati yang enggan teriris
Cinta adalah lembaran kosong yang tak sempat kau tulis

Ayuni, ketika api dan air mulai berpadu, awan menghitam
Langit kelam, burung mati dan diam dalam peraduan malam
Lantas apa yang akan kau ucapkan pada malam yang kian temaram

Matamu menatapku, kau tersenyum beberapa detik
Lalu berucap, aku akan membiarkan air mataku jatuh menitik
Seirama dengan lantunan gitar yang tak pernah jadi kau petik

Aku hanya terdiam mendengar jawaban bibirmu
Di bait terakhir, aku mencoba mulai menerka hatimu

Ayuni, apakah degupan di jantung ini tak kau sebut cinta
Apakah tatapan mataku yang tajam tak kau tangkap sebagai cinta

Kau tersenyum dan berucap, coba lihat dedaunan yang menyimpan embun
Coba kau ingat senyum Ibu dan dahinya mengkerut saat melamun
Coba kau baca setiap buku yang sering kau bawa dan kau tuntun
Itulah hatiku, fahami ia dan belajarlah membacanya dengan santun

Kelak, waktu dan kerinduan yang akan menuntun kita tuk betemu

Januari 2012
0 komentar

PETA HIDUP



Aku memberimu peta hidup
Tergambar di dalamnya aku dan kamu.
Garis-garis bujur yang selalu tak mujur.
Mencintaimu tak letih hingga uzur
Daerah bukit yang cukup rumit
Kasihku padamu takkan berpamit

Lewat peta hidup aku mulai mengajarimu
Membangun rumah dengan cinta yang ramah
Pekarangan dua are sebagai tempat hidup
Menyala-nyalakan kasih yang kian redup

Suatu saat, jika langkahmu goyah
Tersesat dan hendak menyerah
Kau buka kembali peta itu, yakinlah aku masih disitu
Biarkan lembaran-lembarannya lusuh
Karena mencintaimu aku tak pernah jenuh

Juni 2012
0 komentar

TANYAKU





*‘Kapan lagi kutulis untukmu. Tulisan-tulisan indahku yang dulu.
Pernah warnai dunia, Puisi terindahku hanya Untukmu’.

Antara baris lagu itu. Terselip beberapa tanya untukmu. Pertama, adakah kau tersenyum mengenangku? Atas luka yang kau hidang di bola mataku. Sejak kau menangis dipeluknya. Menghadirkan cemas yang ganas. Benci yang caci. Kedua, kapan lagi kau mencintaiku? Mengusap ribuan sesal dan bara di dadaku. Mengeringkan mata dengan pesona senyummu. Bibir merah yang indah. Garis senyum yang ranum. Ketiga, maukah kau menjadi bait-bait puisiku lagi? Menjadi telaga dalam kering imaji. Menjadi awan saat mentari berpijar menyinari. Atas panas yang beringas. Sejuk yang peluk.

*Mungkinkah kau kan lembali lagi. Menemaniku menulis lagi.
Kita arungi bersama. Puisiku terindahku hanya Untukmu’.

Jika kau diam tak bergumam. Ini tanya terakhir, dariku yang mencintaimu penuh khawatir. Sudikah menikah denganku?. Menyatukan mimpi tanpa tepi. Memupuk cinta yang lapuk. Mewarnai hidup yang redup. Membagi kasih tak letih. Memadu hati hingga mati.  Sekali lagi, Sudikah menikah denganku?

Juni 2012

* Petikan Lagu Jikustik ‘Puisi’
0 komentar

SEMACAM KERINDUAN PADAMU



Aku memendam perasaan yang dalam. Pada gadis bermata tajam. Gadis yang mengikat mimpi dan citanya diatas dendam. Nyala-nyala lilin kian temaram. Di kamar kost ia selalu menangisi malam. Atas masa lalu yang kelam. Kisah cinta dan hati yang perlahan karam. Hari esok yang mungkin cerah atau kian padam.

Aku menitip rindu seperti laut. Kepada semangat dan senyumnya yang tak surut. Walau air mata senantiasa bermain di hatinya berkabut. Ia tak henti bersujud lutut. Sebaris do’a di bibirnya terpaut. ‘Tuhan, berikan hidup indah tanpa rasa takut. Berikan perasaan ikhlas tanpa harus menuntut’.

Demikian aku menaruh cinta sepenuh hati. Kuhadiahkan dengan sekotak peti. Untukmu yang tak kan terganti. Walau jiwa hampir mendekati mati. Kucoba bangun, perlahan kau kudekati. Sungguh, aku memikirkanmu hari ini dan nanti. Meski rindu terkadang seperti belati. Menikam dan mencabik segenap isi hati. Namun kau tetap harum bagai melati.

Semoga kau berkenan. Belajar mencintaiku perlahan. Pelan dan sangat pelan.

Rifat Khan, Juni 2012
0 komentar

PEDAGANG KOPI DI JOBEN



Aku tutur kembali. Cerita yang jatuh dari matamu. Kerudung yang mendung melepas gerimis. Hatimu yang redup kian teriris. Dara belia kelas tiga SMA. Di ujung Joben aku memahamimu. Tentang mimpimu di bangku kuliah. Tentang citamu yang mungkin sederhana. Tentang mukamu yang pilu melihat nyata.

Kau terlalu muda untuk dewasa. Sembari kau mengaduk dua gelas kopi dengan air mata. Nenek tua disampingmu terlalu cepat membatas khayalmu. Tentang penghasilan pas-pasan. Tentang bapak yang pulang mencari surga. Tentang Ibu yang menghitung butiran rindu di Kalimantan. Matamu diam-diam menyimpan air.

Sebuah mimpi kecil sederhana. Namun nyata, selalu berbeda dari asa. Nenek tua disampingmu hanya tertegun dengan mata yang sama denganmu. Berair.

Joben, 06 Mei 2012
0 komentar

MERARIQ BAJANG



Gadis belia enam belas tahun
Menghilang di atas ranjang
Di kamar empat kali empat
Telah hilang sejumlah pakaian berlipat
Dua boneka lucu dan sebuah gincu
seragam sekolah berserak tanpa arah

Ketika mendung menyelimuti simpang empat Pringgasela
seorang lelaki mencurinya pertaruhkan segala
dari balik jendela berlapis baja
Lelaki yang membawanya menyinggahi surga
yang setahun lalu menabung mahar untuknya
membuatnya terlupa jalan pulang

Gadis belia enam belas tahun
yang belum bisa menenun
bersama lelaki di mimpinya
enggan kembali mengetuk pintu rumah
sebelum tetabuhan gendang nan lantang
membawanya pulang mencium kaki Ibunya

Mei 2012

Merariq Bajang : Kawin Muda
0 komentar

Sebuah Foto di Belakang Pintu


Dik, mendekatlah sedetik.

kuceritakan kau tentang sebuah foto tua
yang masih menempel dibelakang pintu
sosok tegar selalu tersenyum binar
wajah manis tak pernah menangis

ia adalah Ibu, wanita satu antara seribu
wanita hebat dengan rambut terurai lebat

Mendekatlah Dik, air matamu jangan menitik

sembilan belas tahun silam
ia melahirkanmu diujung malam
melepas tangismu dalam kelam
ia kemudian berpamit dengan senyum rumit
bayi perempuan itu adalah kamu
ia bungkus dengan madu dan sejuta rindu
ia doakan dengan cinta kepada sang Pencipta
ia tanamkan sayang tanpa saling menyerang

Dik, tersenyumlah
Kau terlalu cantik untuk menangis

Juni 2012
 
;