Minggu, 18 Desember 2011 2 komentar

TENTANG AIRA


1) Lautku Sayang

Dari mana mengenal laut

Airnya biru bersimbah peluh

Kita sesekali menjamah asalnya

Sesekali semakin mengeruk hasilnya

Laut ini berasal dari darah

Darah pergulatan manusia

Tentang Aira, yang menjaga laut

Tentang sarung lembutnya yang basah

Menjaga laut semesta dan isinya

Sampai musim terlalu musim

Dan dedaunan semakin gugur

Mukanya polos, hatinya bening

Bercampur sampah menjadi keruh

2) Lagu Lama

“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya”

Lagu lama itu terdengar dari radio

Kau memandang aku memandang

Kita terbias, kau sudah dewasa

Tak lagi jadi boneka lucu

Dadamu busung hidungmu mancung

Berbeda dari waktu dulu kau sering menangis

Sesekali aku bertanya, lihatlah Aira,

Jari-jemari tanganku ada berapa?

Kau tersenyum karena jawabmu sudah kuduga

Kau hafal tanpa perlu berucap

Lantas, apakah kau masih tau

Berapa kali detak jantungku berdenyut setiap detiknya

Kau tak mampu menjawab seperti tempo dulu,

Karena aku pun tau detak kita memcau sekencang-kencangnya

Sampai kita tak bisa menghitung,

Yah, semuanya dikarenakan cinta

3) Perasaan Berkabut

Lirih gemuruh runtuh di kotaku

Pepohonan tumbang dan sajak mulai mati

Ia gagu, tak berbicara sepatah kata

Gadis kecil itu bernama Aira.

Bias kuterka namanya dari gerak jemarinya

Atau dari bibirnya yang mulai kering,

Kemana Ibu yang kemarin menyusuiku?

Ia berkata sepuluh kali tanpa henti

Dan berjalan memegang boneka kucing

Berwarna ungu’

Rambutnya kering

Ibunya mulai menghilang ditelan reruntuhan

Termakan air dan tercabik dalam biru

Aku diam termangu

4) Ruang Dendam

Pada sekelumit dendam

Gadis itu tumbuh dewasa

Pada darah yang lupa tersapu ombak

Pada gunung yang meluap ganas

Ia gadis penunggu, aku seorang pemuja

Lewat sesajen dan dupa

Padamkan segala amarah

Lupakan segenggam dendam

Rangkul dan gendonglah dia

Namun wajahmu terlampau asing

Kau menyeruak meronta-ronta

Sekelumit dendam kian kau bawa

Aira. Ada surga ada neraka

Kau tinggal berjalan dan memilih yang mana

5) Sekilas Pundak

Maka, lampu kian memudar warna

Lilin tak jua menyalakan bara

Kau menggenggam sebuah dilema

Pada sebuah pundak

Aku menitip rindu amarah

Pada sekilas pundak

Kau akan pergi dalam malam

Aku lupa memberimu sebuah nama

Maka kulekatkan sebuah tulisan dalam pita

Ketempel erat di sebelah kiri jantungmu

Aira, nama itu akan kau bawa

Terus kau bawa sampai menemukan surga

6) Berbulan Duka

Ada gumpalan air mata di sela tawamu

Warna merah di pipi kian merona

Aku tak bisa menduga

Kau terharu atau bahagia

Lelaki itu erat memegang namamu

Aira. Kala api telah kau genggam

Air pun akan kau kantongi

Lautan menjadi biru, pepohonan tumbuh haru

Gunung-gunung senyum melambai

Nikahilah dia. Jangan fikirkan aku

Sebab berbulan duka

Atau berabad tangis

Aku akan menahan tak kan menyesali

7) Di Ujung Nopember

Ujung Nopember, ‘you will be the dead of me’

Kematian, ruang kosong tanpa udara

Mendekap langit tanpa cahaya

Gemulai hujan memudarkan rupa

Kau tak kukenali sebagai perempuan

Tak kukenali pula sebagai Ibu

Tak pula kubaca gerak bibirmu

Aku hampa kau tinggal tiada

Aira, aku rindu rupa

8) Pada Musim yang Musim

Pada musim yang terlalu musim

Pada rindu yang terlalu rindu

Aku memandang langit dalam malam

Merangkai-rangkai senyummu diantara bintang

Melukis-lukis wajahmu dihening malam

Sesekali berpejam menyebut namamu

Aira. Kita sudah tak bisa bercinta

Kita sudah tak bisa merangkul selangkah

Kau kian menjauh arah

Jauh. Tak bisa kutangkap

Dan sulit kudekap

9) Menderu Biru

Baiknya kau putar ulang langkahmu

Berkali aku mengingatkan itu

Bismillah seratus kali

Kukemas barang dalam lemari

Namun di atas ranjang, kau mulai berbaring

telanjang

Sedang pintu lama kututup

Jendala rapat kututup

Angin apa yang membawamu

Kau hanya berbisik,

“Aku Aira. Jangan pergi

Aku enggan sendiri”

19 Desember 2011

Minggu, 11 Desember 2011 0 komentar

Cerpen - Aku Seorang Saksi Yang Dilema


Tepat jam sembilan pagi. Aku sudah berada di ruang sidang. Menjadi saksi. Sebuah hal baru dalam hidupku. Karena sampai saat ini aku belum pernah sama sekali berurusan dengan yang namanya hukum. Tapi hari ini, mau tak mau aku harus duduk di sini dan berbicara sejujur mungkin tentang apa yang menimpa kakakku. Satu-satunya kakak lelaki yang terbunuh beberapa hari lalu. Dan aku berada di sana pada saat itu.

Sebuah kejadian yang selalu membuatku menitik air pada sampai pada hari ini. Kakakku bernama Toni, seorang mahasiswa semester akhir. Ia lumayan cerdas dan sering mendapat beasiswa beberapa tahun terakhir. Bahkan Ia akan direkomendasikan untuk mendapatkan beasiswa S2 dan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Namun apa daya, malam Kamis yang begitu na’as. Ia menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa botol lebur menghujam kepalanya. Sangat perih. Aku hanya terdiam melihat nafasnya terengah dan sakit menahan sekarat.

Ruang sidang masih sepi dan sang hakim baru saja duduk ditempatnya. Para pengunjung sudah mulai nampak berdatangan. Dapat kulihat dengan jelas, Bapak, Ibu dan seorang adikku yang duduk berjejer di deretan bangku depan. Bapak mulai sakit-sakitan sejak kematian Toni. Pukulan yang sangat berat bagi seorang bapak seperti dia. Betapa Toni adalah seorang anak kebanggaan bapak. Anak yang cerdas dan sangat rajin membantu orang tua. Bagaimana tidak, sehabis pulang kuliah, ia selalu menyempatkan diri ke pasar membantu bapak untuk berjualan. Dan pada malam hari ia bekerja disebuah toko untuk mencari uang jajan sendiri. Ia tak pernah merepotkan orang tuanya. Betapa kuliahnya pun sama sekali tak pernah minta uang kepada bapak. Bahkan sesekali ia memberi adiknya uang jajan jika ada uang lebih ia dapatkan.

Aku masih ingat jelas, setiap pagi bapak selalu memarahiku setiap aku telat bangun, “Lihat kakakmu si Toni. Ia selalu bangun shubuh-shubuh ke musholla, adzan, kamu ini apa, cewek kok bangun seginian, rezekimu duluan dipatok ayam. Dasar anak cewek, maunya dimanjain aja” Begitulah ayah selalu dan hampir membanding-bandingkan anak-anaknya. Selalu ia menyuruh kami mencontoh pada Toni. Sama sekali tak ada celanya di mata ayah.

Karena memang demikian, menurutku juga Ia sosok yang sangat baik. Ia selalu peduli dan jauh mementingkan kebutuhan adik-adiknya ketimbang kebutuhannya sendiri. Ia sangat jarang jajan di luar dan ia juga memang tidak merokok. Sebagian besar uang yang ia peroleh digunakan untuk biaya kuliah, biaya adik-adiknya dan sebagian mungkin di tabung. Namun terkadang ada hal yang tidak ku suka darinya. Ia selalu mengurus masalah ku. Dengan siapa aku pacaran, bagaimana sikap pacarku dan siapa pacarku. Aku sadar, semua ia lakukan karena ia sayang padaku. Ia tak ingin aku memilih seorang pacar yang menurutnya tidak baik.

Ruang sidang sudah mulai penuh. Para jaksa penuntut dan seorang pengacara sudah memasuki bangku persidangan. Dan yang ditunggu-tunggu tampak berjalan pelan menuju ruang sidang. Tersangka, begitulah ia disebut. Namanya Aldi. Nama yang begitu dekat denganku beberapa bulan terakhir ini. Kami pacaran selama 7 bulan dan Aldi merupakan teman sekelasku dan kami sedang menginjak kelas dua di bangku SMA saat ini. Aldi, sebagian orang di ruangan ini mungkin membencinya. Sebagian lagi mungkin mencaci dan menghujatnya. Matanya tampak beku. Ia sesaat menatapku, tatapannya kosong namun dapat kurasakan kasih sayangnya masih sama seperti kemarin-kemarin. Sedetik ia mencoba tersenyum padaku. Aku hanya bisa memandangnya, mukanya pucat dan sebuah goresan luka dipipinya yang masih mengandung darah. Ia nampak tegar. Seorang yang begitu pernah mengisi kekosonganku selama ini.

Beberapa kali ia pernah ribut dengan para preman di jalan. Lantaran si preman terlampau sering menggodaku. Aku ingat dengan jelas, malam itu Aldi meneleponku memintaku menemuinya ditempat ia biasa nongkrong dengan teman-temannya. Tempat yang tak begitu jauh dari rumahku. Ia bilang ia begitu kangen dan belum berani ke rumah dikarenakan mas Toni, kakakku yang sudah meninggal, tak pernah ramah padanya. Karena mas Toni sudah mengenal betul siapa Aldi. Mas Toni sering berkata, “Dek, tolonglah kakak minta untuk tidak terlalu dekat dengan Aldi. Bukannya kakak sok ikut campur mengurus semuanya. Tapi kakak hanya ingin adek mendapat yang jauh lebih baik. Aldi tidak begitu baik. Setiap malam sehabis dari toko, kakak selalu melihat mereka ngumpul dengan botol-botol minuman berserakan dengan beberapa temannya. Ada yang sampai pungsan dan terkujur di jalan. Ada yang ngoceh sembarangan dan teriak-teriak. Cobalah berfikir dek, sesayang apapun kita sama seseorang. Jikalau sifat dan perilakunya seperti itu. Kakak yakin, rasa sayang itu bisa hilang. Apa yang bisa diandalkan dari lelaki seperti itu. Apakah ia bisa menjadi seorang pemimpin kelak bagi kamu dan anak-anakmu kalau setiap malam ia hanya mabok-mabokan. Paling-paling adek hanya jadi pelampiasan marahnya. Dengarlah kakak sekali saja”. Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapannya. Aku tak pernah melawan tapi tak pernah juga berhenti menyayangi Aldi. Ia terlampau baik bagiku. Ia selalu ada kapan pun di saat aku butuh. Di depanku ia begitu sopan dan ramah, meskipun kebanyakan orang berkata ia hanya sampah masyarakat. Dan sampah sepatutnya ada di bak samapah. Aku tak peduli. Aku sayang sama dia. Toh, walaupun dia sering mabuk, tapi ia selalu tak pernah bohong dan tak pernah menyakiti.

Begitulah, selain bertemu di sekolah, kami selalu bersembunyi tiap kali ketemu dari penglihatan mas Toni, aku selalu menemuinya kapan pun ia minta. Terkadang aku berlasan keluar motocopy atau mungkin pergi membeli jajan. Ayah selalu curiga dan selalu ngomel tiap aku minta izin. Tapi itulah kekuatan cinta yang kami miliki, aku selalu tak peduli dan terlanjur sangat sayang padanya. Sedikit pun tak ada keburukan darinya. Yang ia tanam hanya senyum. Senyum yang begitu berbeda kulihat di ruangan ini. Aldi nampak memakai sehelai kemeja putih. Dengan rambut yang mulai agak gondrong. Dan nampaknya berhari-hari tak disisir. Aku bisa menangkap keresahan dan ketakutan yang menggantung dibenaknya.

Sesekali ia memandangku. Aku pun sesekali memandangnya. Namun aku sangat bingung. Aku berada di sidang ini sebagai musuhnya. Sebagai seorang saksi yang akan menjerumuskannya ke penjara. Beberapa tahun atau mungkin bisa saja seumur hidupnya. Fikiranku begitu kosong, di pihak lain keluargaku berharap aku mengatakan sejujur-jujurnya tentang kejadian itu. Sehingga pembunuh kakak ku bisa merasakan balasan yang setimpal dengan apa yang di dapat anaknya. Di sisi lain lagi aku harus membuat orang yang begitu kusayang dan juga sangat mencintaiku mendekam di dalam jeruji besi. Namun kebenaran tetap akan menjadi kebenaran. Kebenaran akan terkuak sejauh mana pun orang menyembunyikannya. Kebenaran adalah sebuah kebenaran.

Tibalah saatnya, seorang hakim meminta menghadirkan seorang saksi tunggal. Aku pun berjalan ke tengah ruang sidang. Duduk di sebuah kursi dengan detak jantung berdegup tinggi. Aku memandang semua keluargaku yang masuh duduk sedari tadi kemudian mengalihkan pandanganku ke arah Aldi. Ia hanya menunduk dan pandangannya tak tertuju padaku. Air mataku menitik sesaat sebelum seseorang mangangkat sebuah Al-quran tepat di atas kepalaku. Bibirku gemetar dan tanganku serasa berat. Aku pun berbicara.

“Malam itu, tepatnya malam Kamis. Aku meminta izin kepada bapak untuk membeli sebuah buku. Bapak enggan memberiku izin. Namun aku terus merengek meminta izin pada Bapak. Dan ia mengizinkanku keluar paling lama hanya setengah jam. Aku sangat bahagia keluar teras rumah. Dikarenakan aku berhasil membohongi bapak. Aku berkali-kali membohongi beliau. Maafkan aku Pak.”

Sambil aku menoleh bapak yang masih duduk kaku dibangku paling depan.Bapak pun memandangku dengan tajam. Mata itu tampak berair. Aku pun melanjutkan pembicaraan.

“Aku pun berjalan, karena tujuanku sebenarnya adalah menemui kekasihku. Kekasihku adalah Aldi, yang kini menjadi tersangka. Aldi, kekasih yang sangat baik dan selalu memenuhi semua keinginanku. Namun sayang, kakakku yang kini jadi korban, Toni, selalu memandangnya sinis. Selalu beranggapan bahwa Aldi hanya seorang pemabuk dan tak pantas sama sekali dekat denganku. Karena kami dari keturunan baik-baik. Mengingat ayah kami adalah seorang imam Masjid. Begitulah, mas Toni tak pernah memandang kebaikan kepada tersangka Aldi.”

Para pengunjung sidang mulai riuh mendengar setengah penjelasanku. Ada yang mulai keluar karena sidang tidak menarik atau memang ada kewajiban yang harus dikerjakan. Hakim memintaku melanjutkan penjelasanku. Dengan gemetar aku pun berucap, “Mas Toni seperti biasa berjualan di Toko setiap malam dan pulang sekitar jam setengah sepuluh malam. Mungkin bapak dan dan Ibu dirumah sangat khawatir karena sampai jam segini aku belum pulang jua. Biasanya aku hanya setengah jam bertemu dengan Aldi. Tapi malam itu entah kenapa sudah hampir dua jam aku masih bersamanya. Aldi malam itu bercerita masalah orang tuanya yang sering bertengkar. Bapaknya sering meninggalkan Ibunya dan pulang pagi. Ibu nya selalu menuduh bapaknya selingkuh. Sehingga orang tuanya selali ribut dan berujung pada pertengkaran. Sebagai seorang pacar, aku mendengar curhatnya malam itu. Sesekali menjawab dan memberi masukan. Berharap ia bisa sedikit tenang. Aldi, malam itu seperti biasa habis menenggak berbotol-botol minuman keras. Namun malam itu Ia sendiri. Teman-temannya tak ada satu pun. Karena biasanya mereka selalu kumpul. Kami hanya berdua malam itu. Malam sangat sepi sekali. Aku sesekali mengelus rambutnya memberinya perhatian. Karena aku sadar dia hanya bisa bercerita padaku. Menceritakan segala keluh kesahnya karena ia hanya percaya padaku.”

“Bagaimana pun orang bilang, Aldi adalah seorang yang super baik terhadapku. Seorang yang bisa disebut sebagai pacar sebenarnya. Ia mampu melindungiku dan menjaga harga diriku sebagai seorang wanita. Meskipun tampangnya agak ugal-ugalan. Meskipun cemo’oh warga tak henti menghina dan merendahkannya. Ia selalu senyum walau jauh dikedalaman hatinya ia sedih dan menangis sekeras-kerasnya. Malam itu, sudah jam sembilan lebih, aku sebenarnya sangat ingin pulang. Namun apa dayaku. Aldi sangat membutuhkanku malam ini. Aku tak kuasa untuk meninggalkannya.”

“Dari kejauhan aku melihat sebuah lampu sepeda motor. Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi. Mas Toni lewat sepulang dari toko. Tepat sekali, lampu sepeda motornya mengarah pada kami yang lagi duduk berdua dalam kondisi Aldi memelukku. Sepeda motor itu berhenti. Mas Toni beranjak turun dari motornya”.

“Apa-apain ini” mas toni berteriak dan menarik tanganku. “Pulang kamu…!!!” sementara Aldi langsung terbangun memegang tubuhku. “Santai aja Mas” Aldi mencoba melerai tangan mas Toni. Mas Toni tak kuasa menahan marahnya. Gumpalan tangan kanannya menonjok pipi Aldi. Aldi tersungkur. Mas Toni terus menarik tanganku sekuat-kuatnya. Aldi beranjak bangkit dan memegang sebuah botol. “Dasar anak nakal, malam-malam gini masih bersama bajingan, bajingan selamanya bajingan. Lihat keluarga pacarmu itu. Bapak sama anak semuanya ga bermoral. mau jadi apa kamu?” mas Toni terus ngomel dan mencaci sembari menarik tanganku untuk naik di motornya. Dan tiba-tiba dari belakang, aldi sudah memegang dua buah botol minuman. Dalam hitungan detik aku hanya mendengar suara botol pecah di kepala mas Toni. Aku terkaget dan coba melerai aldi. Namun apa dayaku sebagai perempuan, tangan Aldi terlalu kuat dan Ia terus memukul kepala mas Toni. Hampir lima pukulan dengan dua buah botol. Mas Toni tergeletak, tubuhnya yang tegap jatuh dengan darah mengalir keras di kepalanya. Aldi hanya terdiam melihat kejadian itu. Sementara aku menangis sekeras-kerasnya melihat tubuh kakak ku terbaring tak berdaya. Dan warga mulai berdatangan. Sebelum sampai dirumah sakit mas Toni menghembuskan nafas terakhirnya karena terlampau kehilangan banyak darah.”

“Begitulah Pak Hakim cerita sebenarnya”. Aku mengusap air mataku yang mulai jatuh dengan sebuah tisu. Aldi tertunduk lesu memandangku. Aku lega bisa mengatakan kejadian sebenarnya dan resah menanti hukuman apa yang diberi kepada Aldi.

Desember 2011

*SELESAI*

Sabtu, 10 Desember 2011 0 komentar

Cerpen - Aku Bukan Pembunuh Bayaran ??


Malam legam di desaku. Aku hanya terdiam berbaring dalam kamar. Setiap malam begitu sunyi, ngeri dan mencekam. Warga lebih banyak memilih menghabiskan waktu dalam rumah. Bercengkerama dengan keluarga sambil nonton TV. Adapula yang asyik bermain kartu di Pos Ronda. Nama desaku adalah Desa Rembung Papan. Aku juga tidak begitu mengerti kenapa namanya seperti itu, dan apa arti nama itu. Tapi disinilah aku besar, disini aku mulai mengenal hidup. Hidup yang bisa dikatakan keras dan penuh dengan kecurangan. Para pengusaha kaya seenaknya saja mengambil tanah warga dan membayar dengan harga relative rendah. Kemudian memperkerjakan warga sebagai kuli. Kuli yang sehari penuh bekerja dan tersengat mentari. Hanya mendapat upah yang begitu minim dan terkadang harus pula berhutang kepada para tengkulak.

Tapi apa boleh buat, warga di sini sebagian besar hanya berpendidikan rendah. Tidak mempunyai fikiran luas untuk melawan pihak yang kaya. Mereka hanya pasrah dan cukup tersenyum saat dibagikan uoah sore harinya. Upah yang hanya cukup untuk makan. Upah yang membuat mereka sering sakit-sakitan karena pekerjaan yang berat dan uang berobat yang lumayan tinggi. Ujung-ujung mati tanpa pernah mendapat pelayanan yang maksimal. Yah, Uang. Uang adalah segalanya. Uang adalah Tuan. Uang begitu dipuja dan diagung-agungkan. Demikian juga dengan aku, apapun akan kulakukan demi uang. Apapun itu.

Aku masih saja termenung. Mak ku di kamar sebelah sakit-sakitan. Batuknya berdentang sepanjang malam. Yah sudah bertahun-tahun batuk itu semakin menjadi-jadi. Batuk yang terkadang membuatku takut. Batuk yang membuatku selalu berfikir apa aku harus kehilang begitu cepat sosok seorang Ibu. Ibu adalah satu-satunya yang kupunya setelah bapak dan kakakku meninggal tertabrak kereta dua tahun lalu. Waktu aku masih duduk di kelas tiga SMA. Aku kehilangan beliau. Aku terguncang waktu itu, betapa tidak, Beliau adalah satu-satunya penopang keluarga. Sementara tekad ku saat itu adalah menyelesaikan SMA dan hendak kuliah di luar kota. Kuliah, demi semua cita-citaku untuk meningkatkan taraf hidup keluarga. Jujur saja, aku bosan dengan kemiskinan. Aku bosan dengan segala kekurangan. Aku bosan mendengar ibu dan bapak bertengkar hanya karena masalah ekonomi.

Namun apa daya, sejak bapak meninggal. Kehidupan keluargaku semakin sulit. Ibu harus bekerja siang dan malam. Sampai akhirnya ia hanya diam kaku dirumah menikmati sakitnya. Selepas SMA, aku putuskan untuk bekerja di pasar. Menjadi kuli tepatnya. Mengandalkan tenaga mengangkat berkintal-kintal beras setiap harinya dengan upah yang begitu minim. Aku hanya ingin melihat Ibuku sehat dan bahagia sehingga apa pun akan kulakukan demi dia. Dia adalah kekuatan yang membuat saya bertahan mengarungi semua ini.

Tiba-tiba desa ini tak lagi sunyi. Suara warga riuh di luar. Seperti sedang ada pembagian beras atau zakat dari orang-orang berduit. Ibuku yang lagi sakit pun berusaha keluar kamar mencari tau ada apa sebenarnya diluar. Aku hanya membuka tirau jendela dan melihat keluar. Kebetulan kamarku terletak pas di pinggir jalan. Begitu dekat dengan kumpulan warga yang ricuh. Aku melihat dengan jelas seorang satpam menggelatakkan sekujur tubuh. Tubuh seorang lelaki yang nampak kekar. Kacamatanya masih terpasang. Bercampur darah. Tubuh yang sudah kehilangan nyawa. Dengan lubang peluru tepat dikeningnya. Memang kejam.

Para tetangga mulai sibuk bertanya dan menerka-nerka. Setelah sekian lama diketahui mayat itu adalah mayat seorang pengusaha yang sekian tahun menguasai pasar. Semua warga mengambil stok barang dari dia. Mendapat upah minim sedang dia mendapat upah sekian lipat dari barangnya. Tubuh itu diam. Malam semakin gelap. Warga semakin berduyun melihat kejadian. Aku hanya melihat dari balik jendela. Aku hanya termenung melihat kejadian itu. Sontak, dusun ini menjadi ngeri. Semakin ngeri sejak penemuan mayat itu.

Orang-orang bertanya-tanya. Siapa yang membunuhnya?. Pertanyaan it uterus mengalir beberapa hari.

“Ah, paling dibunuh sama saingan bisnisnya”

Yang lain berkata,

“Mungkin ada yang tidak suka dengan sikapnya selama hidupnya. Biasalah, orang ini kan pelit. Selalu makan dari keringat warga. Wajarlah ada berbagai pihak yang dendam dan membunuhnya.”

Begitulah obrolan sehari-hari yang kudengar. Mulai di warung kopi, ibu-ibu yang lagi asyik ngumpul. Bahkan di pasar, semua membicarakan hal itu. Aku seperti biasa hanya terdiam tak pernah menanggapi apa pun. Aku memilih untuk tidak berkata apa-apa. Sementara di rumah, ibuku mulai sakit-sakitan. Batuknya tambah parah. Aku memutuskan mengajak meriksa ke puskesmas. Ibu semula menolak, “Biarlah, uang itu pakai aja membeli beras, besok juga baikan kok”, Ia selalu berkata demikian. “Ada uang lebih Bu” Aku mengeluarkan sejumlah uang dikantongku. Ibu ku nampak heran melihat uang dalam jumlah lumayan banyak. “Uang dari mana nak?” tanyanya. “Kebetulan tadi pagi banyak kerjaan, lumayanlah dapat banyak”. Ibu diam, ia tak bertanya lagi, ia tak pernah terlalu bertanya. Karena Ia sadar aku sudah dewasa.

Akhirnya Ibu pun mau kubawa ke puskesmas. Sepulang dari puskesmas, aku menyempatkan diri ke took. Membeli spring bed, dikarenakan aku tak tahan melihat Ibu hanya beralaskan tikar dalam keadaan sakit begini. Ibu hanya tersenyum, “Makasih Nak, mudah-mudahan Gusti Allah selalu melimpahkan rezekinya untukmu” Ibu seakan ingin menetes air mata. Tangannya masih mengusap rambutku. Aku senang dan bahagia melihat Ibuku juga tersenyum.

Hari itu kami makan enak, aku membeli dua bungkus nasi di warung makan sebelah. Tanpa sengaja di warung tersebut, aku bertemu dengan Pak Sulaiman. Pak Sulaiman adalah seorang pengusaha tembakau yang kaya raya. Tanahnya di mana-dimana dan bahkan Ia sering ke luar kota mengurus bisnis-bisnisnya. Aku pernah bekerja setahun lalu di kebunnya. Mengurus kebun dan beberapa binatang piaraannya. Ia memberiku sebungkus rokok dan mengajakku ngobrol sebentar. Hari itu ia nampak galau. Seperti ada beban dalam kepalanya, seperti ada urusan yang harus ia selesaikan dengan meminta bantuanku. Setelah mengobrol, aku pun pulang membawa dua bungkus nasi untuk ku makan bersama ibu.

Ibu tampak lahap makan siang ini. Dikarenakan lapar atau mungkin tumben makan dengan menu seenak ini. Dengan daging, paha ayam dan cumi goring. Aku tersenyum memandang Ibu. “Kamu gak makan Nak?”. Ia menyapaku karena melihatku yang hanya diam tidak menyuapkan nasi sedari tadi. Aku pun tersenyum dan mulai menyuapkan nasi. Ibu istirahat sehabis makan, ia tampak lelah karena lumayan jauh perjalan ke puskesmas tadi.

Aku masuk ke kamar, membuka sebuah lemari yang selalu ku kunci rapat. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dan mulai berfikir. Sambil mulutku tak henti megisap rokok yang terus menyala mengeluarkan asap. Asap putih yang terbang dan keluar dati balik jendela. Aku akhirnya keluar dan pamit sama Ibu. Ibu sangat ikhlas melepasku maghrib itu. Suasana desa mulai sepi lagi. Mendung menyelimuti. Gumpalan awan tebal seakan enggan memberi sedikit saja celah untuk sinar bulan. Hanya ada dua orang satpam yang mulai bermain kartu dan berjaga di pos ronda. Aku pun menyapa mereka.

“Permisi bapak-bapak, asyik kayaknya main kartunya”.

“Eh, mas Ilham, mau kemana?” satpam yang agak kurus menyapaku.

“mau nyari kopi Pak, dingin…”

“Oalah dingin, makanya buruan kawin” Mereka seperti biasa mencandaiku.

“Kalo Jodoh mah pasti datang kalo dah waktunya”

“Ya kalo ga dicari mana bisa dating” mereka serempak tertawa.

Aku hanya tersenyum. Mereka selalu mencandaiku seperti itu. Selalu nyuruh kawin. Padahal umurku baru 22 tahun. Aku rasa belum saatnya memikirkan itu. Aku harus bias membuat Ibuku bahagia dan paling tidak bias membeli sebuah rumah yang layak untuk kami tempati. Baru berani ngawinin anak orang. Begitulah pola pikirku. Meskipun banyak teman sebayaku sudah kawin dan malahan banyak yang sudah punya anak satu. Tak sedikit pula yang harus cerai karena terbelit masalah ekonomi. Itulah yang sangat aku takutkan. Sangat kutakutkan. Akhirnya aku pun permisi kepada kedua satpam itu. Mereka melanjutkan lagi permainannya. Malam pun semakin gelap. Hujan besar membasahi penjuru dewasa. Petir menggelegar dan sesekali menyambar. Membuat sebagian orang mengunci pintu rumah rapat-rapat.

***

Tepat jam satu malam aku pulang. Ibu ku keluar membukakan pintu. Seperti biasa, Ia tak pernah bertanya sudah dari mana. Ia hanya tersenyum dan berkata, “makanan ada di dapur Nak, Ibu masak telur hari ini. Kebetulan masih ada sisa uang kematin yang kamu kasi”. Aku hanya tersenyum dan langsung masuk ke kamar. Melihat tetesan hujan yang sesekali menyelinap dari genteng rumah yang bocor. Petir bergemuruh, lagi-lagi warga riuh. Ada yang berteriak dan ada pula yang berlari. Pak satpam lagi-lagi menemukan mayat. Seperti biasa ia geletekkan di pinggir jalan. Persis di dekat jendela kamar. Aku hanya membuka jendela dan mulai memperhatikan dengan seksama.

Seonggok badan kurus. Dengan rambut ikal dan sudah beruban. Sebuah peluru menembus dadanya. “Saya temukan dipinggiran sungai, saya waktu itu mau buang air, eh, ketemu mayat lagi” Begitulah pengakuan satpam itu. Aku mendengarkan dengan seksama. Petugas mulai berdatangan menyelidiki. Hujan menetes membawa darah yang mengucur ditubuh mayat itu. Para warga mulai terbiasa dengan kondisi itu. “Ah, mayat lagi. Pak Idris ya?” Nampak seorang warga bertanya. “Biasalah, saingan bisnis, pak Idris baru saja mendapat kontrak oleh Bupati untuk beberapa proyek.”. “Ga usah berkata begitu, ga baik” nampak seorang menegurnya. Tangis pilu dari keluarganya pun terdengar. Mayat itu dibungkus rapi, namun darah masih tampak mengucur menembus kain tipis yang menutupi tubuh itu.

Beberapa kejadian mulai banyak terjadi. Beberapa mayat sering ditemukan dimalam itu. Polisi terus mencari apa penyebab kematian itu. Apa mungkin penjahatnya begitu professional hingga jejaknya belum bias diendus. Atau mungkin ada sosok pembunuh yang bekerjasama dengan jin. Begitulah opini-opini warga. Karena masyarakat sini masih sangat percaya dengan hal-hal yang berbau tahayul.

***

Sekian malam, keadaan semakin mengerikan. Aku memutuskan untuk keluar. Ibu ku nampak khawatir malam itu. Biasanya dia melepasku dengan senyuman manis di bibirnya. Tapi entah kenapa malam ini Ia hanya terdiam, bibirnya datar tak menyungging senyum. Aku mencium tangannya dan ia hanya berkata, “Cepet pulang ya Nak”.

Aku pun beranjak dan melangkah jauh dari teras rumah. Hujan mulai deras. Hamper setiap malam hujan turun dan lampu pasti mati. Maklum, dusun ini belum mendapat aliran listrik yang layak. Dan setiap malam selalu bergantian mati dengan dusun tetangga. Kadang-kadang jatahnya sama-sama seminggu. Begitulah setiap malamnya.

Malam pun semakin lurut. Ibu sendirian di rumah. Mungkin ia sedang asyik bertasbih atau berdo’a tak henti-henti untuk keselamatan anaknya. Atau mungkin juga sedang terbaring lesu dengan kesakitannnya. Entahlah, ia hanya sendiri di rumah. Aku meninggalkannya sejak maghrib tadi.

Riuh warga mulai terdengar. “ada mayat lagi..!!”. Sorak sorai warga menembus malam. Ibuku terkaget dan keluar ditemani lampu senter yang redup. Ia nampak mulai masuk di kerumunan warga yang sedang ramai. Betapa kagetnya ia, melihat sekujur tubuhku tergeletak dengan dada ditembus dua peluru. Jerit tangisnya menyeruak membelah malam. Matanya bening dan pipinya merah merekah. Aku bisa melihatnya sebelum aku benar-benar menghembuskan nafas terakhir.

“Ia ditembak polisi”. Begitulah warga menjelaskan.

*SELESAI*

0 komentar

Cerpen - Percakapan Singkat di Lobi Bandara


“Jenggotmu sudah panjang, cukur saja” Begitulah temanku mencoba bercanda pagi itu. Saat pelanggan mulai berdatangan di toko yang saya kelola bersama istri. Kami sudah tinggal hampir selama sepuluh tahun di Negara ini. Saya memiliki seorang anak yang masih berumur tujuh tahun. Anak yang sangat lucu dan menjadi penenang di saat galau. Menjadi tawa disaat air mata harus menetes.

Setiap hari aktivitasku hanyalah menunggu sebuah toko. Lebih tepatnya sebagai manager di toko sendiri. Pegawai kami lumayan banyak, maklum toko yang saya rintis sepuluh tahun lalu ini lumayan berkembang pesat. Dan alhamdulillah saya makmur hidup dan menetap disini. Kami memiliki sebuah rumah di kota ini, California, USA. Orang-orang disini sangat ramah. Tetangga-tetangga satu komple biasanya berkumpul sore-sore. Selalu ada aja hal menarik yang dibahas.

Seperti sore itu, ada seorang tetanggaku, namanya Mr. Robert, lelaki setengah baya yang masih giat dalam lembaga sosial. Ia adalah seorang yang alim. Selalu menenteng kitab sucinya kemana pun ia pergi. Berkata seperti Nabi, hampir tak ada cacat dalam setiap perkataannya. Selalu sabar, apapun masalah yang menimpanya. Sore itu cuaca masih menyisakan panas. Jalanan berdebu, Mr. Robert berjalan disekitar komplek rumah. Ia memelihara due ekor kelinci. Kelinci lucu yang masing-masing bernama Alan dan Johnson. Ia memelihara dua kelinci itu sekian lama. Ia nampak begitu sayang dengan kelinci-kelincinya. Rutinitas sehari-harinya hanya mengurus kelinci itu setelah beribadat di gereja.

Tapi alangkah kagetnya dia sore itu melihat satu ekor kelincinya meninggal sore itu. Wajahnya pucat sore itu, tubuhnya gemetar, jenggotnya seakan gugur satu-satu. Ia menangis mendekap bangkai kelinci itu. Melihat keadaan itu aku mendekatinya.

“Kenapa Pak?”

“Kelinciku meninggal”

“meninggal kenapa?”

“Aku juga tak tahu, tiba-tiba aku menemukannya dalam kondisi begini”

Hidungnya tak henti mencium kelinci itu. Sesekali ia batuk karena memang Mr. Robert sudah lama mengidap penyakit batuk dan ashma. Ia tampak sedih sore itu.

“Apakah tuan mau melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib” aku mencoba bertanya. Karena disini binatang juga berhak mendapatkan perlindungan. Ia menatapku dan perlahan beranjak berdiri. Ia memegang pundakku.

“Mr. Ahmad, segala sesuatu kejadian sudah ada dalam fikiran Tuhan. Ia telah lama merancang segalanya. Tuhan itu penyayang. Tuhan itu penyabar. Ia mungkin sedang menguji kesabaranku jua. Yakinlah, Tuhan selalu memberi yang terbaik. Tuhan tak pernah salah. Akan ada rancangan terbaik untuk kita. Termasuk pula untuk kelinci ini.”

Begitulah Mr. Robert menjelaskanku, betapa Ia adalah seorang yang baik. Ia sekali pun selama sepengetahuanku tak pernah membuat orang sakit hati. Ia sangat rukun dalam bertetangga. Segala sesuatu yang terjadi selalu Ia yakini adalah keinginan Tuhan. Sehingga dengan itu ia bisa ikhlas dan selalu tersenyum.

Begitu pula dengan tetangga-tetangga yang lain. Semua baik-baik saja, semua sangat ramah dan tak pernah menggunjing atau pun memberi perlakuan berbeda kepada kami sekeluarga. Meskipun kami adalah pendatang dan sendirian seorang muslim disini. Mereka tak pernah menyinggung dan menyepelekan masalah agama. Mereka berfikiran Tuhan itu satu dan Tuhan amatlah baik.

Tapi semua berubah. Orang di sini tak lagi ramah kepada kami. Orang di sini mulai mengernyitkan dahi setiap melihat kami. Orang di sini mulai enggan dan menjauh dari kami. Semua berawal dari tragedi 11 September. Tragedi yang merenggut ribuan nyawa dan sebagian besar orang beranggapan penyebab itu adalah orang muslim. Orang muslim yang dianggap sebagai teroris. Dan teroris adalah musuh Negara. Sebuah tuduhan yang mungkin berlebihan. Mungkin, tapi inilah kenyataannya. Sebagian besar warga trauma setelah kejadian itu. Dendam tertanam dalam hati mereka. Bahwa semua orang muslim adalah musuh. Pendiskriminasian mulai terjadi. Dimana-mana.

Semua serba sulit. Di setiap tempat umum, pemeriksaan berulang terjadi. Apalagi aku menyandang nama Ahmad. Jenggotku pun lumayan panjang. Aku enggan menyukur dan karena hampir lima belas tahun aku berjenggot. Jadi ada yang berbeda jika aku harus mencukurnya. Tak apalah. Toh aku bukan teroris meskipun aku seorang muslim.

Istriku sore itu begitu khawatir melihat perubahan-perubahan orang-orang sana. “Apa ga sebaiknya mencukur jenggot aja mas!” Ia menyarankanku berulang kali. Aku hanya tersenyum dan menjawab, “Ga apa-apa dek, Mas pasti baik-baik saja”. Istriku pun mencoba tersenyum, walau ku tau kegelisahan masih menetes deras di wajahnya. Karena bagaimana pun seorang istri pasti gelisah melihat pendirianku yang tak ingin mecukur jenggot.

Karena di berbagai berita di televisi selalu memberitakan tentang ada seorang muslim dikeroyok sampai harus opname dirumah sakit. Bahkan seorang wanita dipaksa melepas jilbabnya. Berita-berita itu terus menumbuhkan kekhawatiran dan sedikit ketakutan dalam diriku. Ketakutan terhadapat keselamatan anak dan istriku. Apalagi anakku sempat bercerita sepulang sekolah. Bahwa ada tiga orang temannya mengolok-ngolok dan mengatakan dia seorang anak teroris. Dikarenakan ada nama Ahmad dibelakang namanya. Anakku mulai takut ke sekolah sendiri. Ia mulai malas. Aku berfikir lama malam itu. Apakah aku harus pergi dan kembali ke Indonesia.

Omset penjualan toko menurun drastis. Pelanggan yang biasa berdatangan tampak mulai sepi. Mereka sudah tak mau lagi berbelanja. Sempat juga aku mendengar obrolan seorang pelanggan kami, “buat apa beli di toko seorang musuh. Ia telah banyak membunuh warga kita, cuiiiiih” Ia pun meludah di depan toko dan pergi. Sampai suatu malam, jalanan nampak sepi, hanya terlihat seorang tua renta mengais-ngais sampah. Aku dan istriku berniat untuk nutup. Tiba-tiba sebuah botol melayang dan tepat mengenai etalase toko. Tepatnya tiga buah lemparan datang, aku mendekap istriku supaya Ia tak terkena pecahan kaca. Para pelaku kabur setelah melempar toko kami.

Akhirnya, setelah kejadian mengerikan itu aku berfikir harus segera pindah ke Indonesia. Karena bapak dan ibu di rumah juga selalu khawatir dengan keadaan kami. Pagi-pagi sekali aku mengantar istri dan anakku ke bandara. Mereka harus balik duluan. Karena aku harus mengurus tentang pemindah sahaman toko dan masalah sekolah anakku yang harus pindah. Air mata istriku jatuh deras saat ku peluk di bandara. “Hati-hati Ya Mas, secepatnya mas juga harus pulang”. Aku hanya tersenyum dan memeluk mereka.

Setelah beberapa hari, urusan semuanya selesai. Kebetulan ada teman yang mau membayar toko itu. Dengan syarat Ia harus mengganti nama toko yang semula menggunakan namaku. Aku pun akhirnya berniat pulang.

Di bandara. Izin dan passport tambah ribet. Perlakuan mereka tak adil. Orang asli warga sana semudahnya saja keluar masuk. Sementara aku harus melalui berpuluh-puluh peneyelidikan. Semua badanku diperiksa. Polisi-polisi berbadan besar dan tegap. Mulai banyak Tanya. Aku pun menjawab seadanya. Sampai akhirnya aku dipersilahkan ke lobi bandara. Orang-orang disekitar melihatku dengan wajah sinis dan banyak yang memperhatikan jenggotku. Aku fikir dalam hati mereka berkata, “Dasar teroris, kau sudah banyak membunuh warga kami, jenggotmu ingin kubakar saja”. Aku tak menanggapi mereka, aku hanya membaca sebuah buku yang dari tadi kupegang.

Sampai beberapa menit akhirnya seorang perempuan duduk disampingku. Perempuan kulit putih dengan tinggi sedikit lebih dari badanku. Rambutnya berwarna hitam tebal, matanya lebar dan bibirnya agak tipis. Aku seksama memperhatikannya karena Ia duduk hanya beberapa senti saja disebelahku. Ia tersenyum tatkala pandangan kami tepat berhadapan. Senyumnya manis sekali.

“Hello” Ia menyapaku. Aku pun tersenyum dan membalas “Hello”. Kami pun mulai berbincang-bincang dengan bahasa Inggris. Ia orang prancis dan nampaknya juga masih belum bisa berbahasa Inggris dengan baik.

“Mau kemana Tuan?”

“Mau balik ke Indonesia

“Ow, kenapa harus balik?”

“Emang saatnya saya harus balik. Kebetulan istri sama anak sudah menunggu disana. Kalo Nona mau kemana?” aku mencoba bertanya.

“Saya mau balik ke Prancis. Saya seorang wartawan yang ditugaskan disini. Saya baru sebulan disini. Amerika memberi banyak hal baru” Ia hanya tersenyum.

“Jenggot” Ia menunjuk jenggotku.

Aku bingung kenapa ia menunjuk jenggotku.

“Kenapa?” Aku mencoba bertanya.

“Aku suka sama pria berjenggot” Ia nampak polos dalam berbicara.

“Apa kau seorang muslim?”

Aku kaget mendengar pertanyaanya.”Iya, kenapa Nona?

“Pacarku adalah seorang muslim. Ia sangat baik. Dia sudah lima tahun berkerja di sebuah perusahaan di Perancis. Tapi, dua bulan kemarin Ia dipindah bekerja di cabang perusahaan di sini. Ia meninggal dua minggu kemaren. Dibantai oleh dua orang pemuda yang sedang mabok. Karena ia berjenggot. Setelah pemuda itu tertangkap. Ternyata Ia menyimpan dendam dikarenakan Bapaknya juga meninggal dalam kejadian 11 September itu. Begitulah orang di sini. Terlalu cepat menyimpulkan. Apakah setiap muslim teroris dan patut dibunuh? Apakah setiap orang berjenggot adalah pengikut Bin Laden?. Apakah setiap orang muslim adalah musuh?. Aku selalu bertanya seperti itu. Bahkan aku pernah membuat artikel seperti itu di koran. Aku dikritik oleh banyak pihak. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari sebuah kebenaran. Kebenaran yang sulit sekali disini. Kebenaran yang mungkin hanya dimiliki Tuhan. Itulah sebabnya aku mengajukan untuk pindah ke sini. Aku ingin mencari jawaban tuntas untuk masalah ini.”

Aku hanya tertegun mendengar penjelasannya. Matanya berkaca-kaca. Ia nampak sedih harus kehilangan kekasihnya yang dibantai dengan sadis. Apa salah mereka, apa daging mereka halal untuk di bantai dan di makan di negeri ini.

Ia pun melanjutkan pembicaraannya, “Buat apa agama kalo toh pada akhirnya perpecahan terjadi karena agama. Apa lebih baik tidak ada saja agama tersebut. Cukup kita meletakkan tuhan dihati kita dan berdo’a dalam kamar sendiri. Mengunci pintu rapat-rapat. Saya selalu mendapatkan pelajaran agama dari semenjak kecil. Kebetulan ayah saya adalah seorang yang taat. Ia selalu menjunjung tinggi Tuhan. Ia selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu baik, Tuhan itu selalu tersenyum dan Tuhan tak pernah diam. Lantas apakah dengan ada kejadian seperti ini kita lantas menyalahkan satu agama. Karena saya pun begitu tau tentang Islam. Saya banyak belajar membaca di buku-buku. Islam itu agama yang baik. Semua agama juga baik. Hanya ada beberapa pihak saja yang berkepentingan dan melakukan itu. Jadi tak sepantasnya kita mendeskriminisaikan sebuah agama dan berstatemen, Islam itu Teroris. Islam itu agama yang paling keras dan menghalalkan segala macam tindakan sadis. Itu sangat tidak benar. Karena sesungguhnya Tuhan hanya satu dan kita menyembah dengan berbagai cara. Tapi tujuan kita hanya satu. Memuji dan mengagungkan Tuhan. Menjalankan perintah Tuhan dengan penuh ikhlas.”

“Lihatlah beberapa kejadian, pembantaian, perang antar agama yang banyak terjadi di setiap belahan dunia, apa motivasi mereka? Apakah mereka ingin membuktikan agama mereka lah yang paling benar. Apa mereka ingin membuktikan Tuhan mereka yang paling kuat. Sehingga agama lain harus dimusnahkan. Tuhan tak perlu di bela. Tuhan itu segala maha. Ia tak perlu dibela dan diperjuangkan dengan kekerasan. Tuhan itu di hati kita. Ia selalu menunggu dan menemani kita. Puji Tuhan”.

Matanya berkaca-kaca, waktu pun harus memisahkan kami. Pesawat akan berangkat dan dia memberikan kartu identitasnya kepadaku. Sungguh sosok yang begitu tegar dan berpandangan luas. Seandainya setiap orang berfikiran seperti Nona ini dan berkelakuan seperti Mr. Robert. Tentunya dunia ini akan damai dan tak ada perang dan ketakutan lagi. Tak ada tangis yang akhirnya merobek hati. Semua saling rangkul dan mendukung. Pasti hidup terasa indah. Aku pun berjalan meninggalkan nona itu dan berharap semoga usahanya tak ada yang sia-sia. Semoga jawaban yang selama ini dia cari bias didapatkan. Dan semoga ia baik-baik saja.

*SELESAI*

0 komentar

Cerpen - Aku Cinta Kau Pelacur


“Dasar pelacur, cuiiiih…!!!!” seraya mulut pemuda itu meludah tepat di muka Marni. Sembari ia melempar selembar uang lima puluh ribu. Marni hanya menangis, entah apa kesalahannya terhadap pemuda itu. Berulang kali aku melihat kejadian seperti itu menimpa Marni. Pernah juga seorang Om-om menampar pipinya lantaran Marni mengeluh tak mau lagi menemaninya tidur. Dikarenakan Marni sedang dating bulan. Berbagai penjelasan dia ucap, namun Om-om itu tak peduli dan menyangka Marni mulai tidak berminat padanya.

Begitulah sehari-hari apa yang dikerjakan Marni. Ia berangkat dari desa meninggalkan bapak Ibunya yang sudah renta. Ia ke kota dengan alasan mencari kerja yang layak untuk bisa memenuhi kebutuhan Ibu, Bapak dan dua orang adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Aku memang tak terlalu mengenal Marni secara dekat. Aku lebih senang menatapnya tiap malam sambil meminum sebotol bir di meja lain. Sebelum para tamu berduit datang dan membawa Marni pergi menghabiskan malam dan merajut surga sampai shubuh.

Seperti malam itu, badanku sudah remuk dan gontai. Beberapa botol minuman sudah kuteguk dengan teman-temanku. Mataku menyala-nyala. Aku mendekati Marni yang sedang dibujuk oleh seorang pemuda. Aku memperhatikan mereka dari setengah jam tadi, Marni tampak enggan dan tak mau meladeni pemuda itu. Namun pemuda itu terus membujum Marni, sesekali mengelus rambut Marni. Namun apa daya, Marni hanya terdiam dan tak ingin melawan. Ia tak mau ada keributan lagi. I amalu sudah terlalu sering membuat keributan ditempat ini.

Aku memegang tangan pemuda itu, Ia pun menyingkirkan tanganku dan melawan. “ada apa bung?” Ia melotot menatapku. “Tolonglah, jangan ganggu Marni” Aku mencoba memberi saran. “Apa urusannya dengan anda” Pemuda itu mulai nyolot dan seakan tidak menerima apa yang kuperbuat padanya.

“Hei Bung, bukankah Marni ini adalah pelacur, dan aku berhak merayunya, aku punya banyak uang” Ia mulai berdiri dan membusungkan dadanya tepat didepanku.

“Sekarang saya minta anda pergi, Marni tak butuh uangmu” aku pun mulai berbicara lantang. Sembari kukeluarkan sebuah pisau kecil mengancamnya. Pemuda itu tampak gemetar. Para pengunjung sekeliling yang memperhatikan kami mencoba melerai dan akhirnya semua pun berhasil di amankan. Aku dipaksa keluar oleh security. Begitulah kejadian malam itu. Aku paling tidak suka jika ada seorang yang memaksakan kehendaknya. Bukankah pelacur adalah manusia yang juga punya hak dan kebebasan untuk menolak atau pun menerima pelanggannya.

Namun disisi lain, aku bingung. Gerangan apa yang membuatku begitu peduli sama Marni. Bukankah Ia hanya pelacur biasa, sama seperti si Siti atau Aminah yang biasa menemaniku tiap malam. Menghamburkan uang yang kudapat dari malak di pasar setiap hari. Bukankah Marni juga sudah tidur dengan ratusan pria, bukankah Marni juga pernah tidur bersama abangku. Yah, abangku. Sosok yang begitu kuat dan tak pernah putus asa. Sosok yang membuatku terinspirasi. Demi memenuhi permintaan istrinya membeli sebuah rumah sederhana. Ia nekad merampok di sebuah bank. Sebelum akhirnya timah panas membuat nafasnya berhenti berhembus. Dua peluru menembus dadanya. Aku kecewa melihatnya mayatnya yang dikirim kerumah. Aku kecewa dan prihatin terhadap nasib istri dan anaknya. Begitulah kehidupan kami, kehidupan yang keras dan penuh menantang bahaya.

Malam ini, aku masih bertanya-tanya dalam hati sembari menatap wajah Marni. Sudah dua hari perempuan ini ku ikat kaki dan tangannya di sebuah gudang yang jauh dari warga. Ia kupenjarakan disini. Tapi tetap kuberi makan seperlunya. Entah kenapa, aku mengikat dan membiarkan dia disini. Aku tak mengerti. Apakah aku mencintainya? Apakah aku mencintainya sehingga aku tak rela Ia dihujam dan diperlakukan tak senonoh oleh beberapa pelanggannya. Ga mungkin aku jatuh cinta sama Marni. Aku terus melawan-lawan dan menjawab sendiri pertanyaan itu.

Setiap pagi aku meninggalkannya untuk mencari uang dan siangnya aku kembali membawa sejumlah makanan dan minuman untuk kami makan bersama. Berulang kali Ia mencoba melawan. Namun, Ia hanya perempuan dan badannya tak setangguh lelaki. Ia hanya bisa meronta-ronta dan sesekali meludahiku disaat aku mencoba menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Bahkan ketika aku mencoba mengganti pakaiannya, Ia menendang dadaku. Dengan keras sekali sembari mencaci-maki.

“Dasar penjahat, apa yang kamu mau?”

“Apa yang kamu ingin dariku, kenapa kau terus mengikatku disini”

“Apakah kau akan membiarkanku mati disini”

“Apa kamu seorang gila??”

Berkali-kali pertanyaan dan cacian itu terlontar dari mulutnya. Seperti gerimis hujan yang tak henti jatuh dan menetes dari genteng gudang yang bocor. Maklum, gudang ini berumurlebih lima puluhan tahun. Dan konon juga dijadikan tenpat pembantaian PKI saat peristiwa tanggal 30 September. Gudang ini tak pernah terpakai. Pemiliknya pun seperti enggan menjual atau menyewakannya. Pemiliknya sibuk berbisnis tembakau di luar kota. Gudang ini biasanya kami gunakan ngumpul sambil minum-minuman bersama beberapa teman. Saat hasil palak di pasar memenuhi target. Kami menghamburkannya dengan berbotol-botol minuman dan sesekali bermain judi hingga pagi. Uang hanya sesaat berdiam di kantong dan akhirnya lenyap dalam waktu sesaat. Orang bilang, uang panas. Tidak akan bisa bertahan lama.

“Kenapa kamu diam?”

“Jawab, apa kamu mulai bisu?”

“Apa kamu sudah tak mampu berkata apa-apa di depanku”

Marni nampak mulai geram. Sesekali ia berteriak, menjerit sekeras apa yang Ia bisa. Angina, gemuruh, badai mulai menerpa. Hujan besar terus menyeruak. Langit gelap. Musim hujan terlalu akrab dengan desa ini. Setiap tahun hujan lebih sering membasahi disbanding panas. Desa yang dulu pernah membuat usaha tembakau bakap bangkrut dan menelan kerugian beratus-ratus juta. Sebelum akhirnya bapak menggantung dirinya di dalam gudang ini. Mayatnya ditemukan sudah kaku dan diperkirakan sudah meninggal berminggu-minggu sebelum akhirnya ditemukan warga setempat. Sejak saat itu, warga mulai takut dan menjauhi gudang ini.

Yah, gudang ini memiliki berbagai kenangan. Banyak orang berkata tenpat banyak setannya. Tapi aku tak pernah takut berdiam disini. Aku sering menghabiskan waktu disini sendiri. Menikmati malam sepi dan jauh dari hingar-bingar dan sorak sorai warga. Tempat ini sangat bersahabat denganku. Tempat yang juga membuatku mendapat inspirasi penuh dalam menulis. Aku lumayan gemar menulis. Menulis tentang hidup, mimpi, darah dan berbagai ketidak keseimbangan dalam kehidupan.

Aku masih saja terdiam menatap Marni. Bibir tipisnya tampak gemetar menahan dingin. Matanya berair dan pipinya tampak layu. Aku membuka jaket yang kupakai dan mengenakan dibadannya. Aku menyentuh keningnya. Sedikit terasa panas dan seperti sakit akan menimpanya. Aku memeluknya erat, Ia sama sekali tak menolak. Ia juga mendekapku. Merasakan kehangatan di badanku.

Sudah dua hari kami tidak makan apa-apa. Disebabkan hujan tak pernah berhenti. Hujan badai yang besar. Disertai gemuruh angin. Sedangkan pemukiman penduduk terlalu jauh. Orang-orang yang jualan di pasar enggan untuk keluar berdagang. Mereka lebih memilih menyimpan barang dagangannya untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri selama hujan badai melanda. Karena baisanya diperkirakan selama seminggu hujan tak akan berhenti.

Marni kelihatan lemah sekali. Aku membuka semua ikatan ditubuhnya. Tubuhnya terbaring lemas. Sakit sudah tiga hari menderanya. Panas badannya drastic meningkat kian hari. Sementara aku hanya menahan lapar. Tubuhku kosong sehingga tenagaku pun habis terkuras. Aku juga hanya bisa terbujur lemas disampingnya. Aku mendekatkan bibirku ditelinganya. Membisikinya kata yang sangat lama ingin kuungkapkan. Kata yang juga membuat bertindak senekad ini.

“Marni, satu hal yang sangat ingin kukatakan padamu. Terlalu lama aku memendamnya. Karena aku masih ragu, sebenarnya perasaan apa yang kumiliki padamu. Aku ragu, apakah aku hanya mengagumi keindahan tubuhmu yang biasa terbungkus dengan pakaian serba mini atau aku hanya menaruh simpati padamu atas perlakuan kasar dari pemuda-pemuda yang mengaku langgananmu. Aku bingung Marni, selama hidup aku pernah berucap takkan pernah jatuh hati pada siapapun. Karena dunia terlanjur menjerumuskan kami ke dalam hidup yang penuh dengan kekerasan dan kebencian. Hidup yang sehari-hari hanya terisi dengan omongan kotor dan sesekali diwarnai darah para musuh yang membangkang. Musuh, ya kami menyebutnya sebagai musuh. Adalah orang-orang yang menentang dan tak mematuhi peraturan kelompok kami. Orang-orang yang malas memberi kami uang. Orang yang merasa kami adalah pencuri. Kami adalah buronan Marni, beberapa kasus di desa ini. Si Udin terbunuh di dekat jembatan, Si Amang dipenggal kepalanya shubuh-shubuh, bahkan Bu Maniah yang harus kehilangan suaminya lantaran ia membangkang. Semua kami binasakan dengan bersih dan tanpa cacat. Para polisi tak henti mengendus langkah kami. Namun aku begitu yakin Marni, aku begitu tak punya rasa takut. Aku santai saja menikmati hidup, berpoya-poya dan bahkan mengelar pesta minum dan judi setiap malam. Ditemani wanita-wanita cantik yang rela memberi kehormatannya hanya untuk selembar uang”.

Aku terdiam sejenak. Kutatap Marni, matanya tak berkedip. Air matanya menetes pelan. Ia menatap mataku. Ia seperti ingin tersenyum, berkata dan mungkin ingin mencaciku dengan ribuan kata kasar. Entahlah, Entah apa yang Ia ingin ungkap ditengan kesakitan yang menimpanya.

“Marni, terlalu banyak penyesalan dan kesedihan yang harus ditangisi. Membuatku enggan dan malas hanya untuk sekedar menitik air mata. Bagaimana bapakku meninggal gantung diri saat aku masih berumur tujuh tahun. Bagaimana abangku tertembak polisi di saat aku harus membutuhkan banyak dana melanjutkan sekolahku selepas tamat di SMP. Aku enggan menangis. Aku enggan menangisi hanya untuk sekedar menangisi hidup. Tapi lihat malam ini Marni, air mataku menetes dengan derasnya. Lihatlah air mataku yang sesekali jatuh ke pipimu. Hangat bukan?. Aku tak tau kenapa ia sampai jatuh,aku tak tau kenapa aku harus membawa mu ke tempat ini dan meniti berbagai penderitaan. Tanpa makan, tanpa minum. Mungkin kau akan membunuhku, menyiapkan rencana untuk menghabisi nyawaku. Mungkin kau akan mencincan-cincang tubuhku dan memberi kepada anjing-anjing diluar sana. Terserah Marni, tapi taukah engkau. Aku hanya ingin melihatmu Marni, aku ingin melihatmu lebih lama. Aku hanya ingin menatapmu sebagai orang pertama tatkala aku terbangun. Maaf marni, jauh dikedalaman hatiku, aku berucap, aku begitu mencintaimu. Aku begitu mencintai dan menyayangimu. Meskipun aku tak pernah tau apa yang dinamakan cinta. Meskipun bapak enggan membahas dan mengajariku arti cinta. Aku hanya bias meraba-raba arti sebuah cinta, tatkala abangku harus meninggal demi memenuhi keinginan istrinya. Mungkin itu arti cinta, atau tatkala kau tidur dengan ratusan lelaki setiap malam. Entahlah, aku tak bias mendefinisikannya. Tapi, aku sadar. Sejak pertama menatapmu, ada semacam keinginan yang menarikkku untuk ingin kembali melihat senyummu. Ingin mendengar suaramu dan bahkan mencium aroma tubuhmu yang sesekali menerpaku saat kau berjalan dengan seorang pemuda melewatiku. Itulah kenapa aku selalu menyempatkan diri duduk dan minum di tempat mu kerja. Marni, aku mencintaimu”.

Marni meneteskan air mata lagi. Hujan tak pernah reda. Di luar sana, jejak-jejak kaki mulai terdengar. Sebuah tembakan melesat di udara. Tubuh Marni bergetar memelukku. Nampaknya polisi sudah mulai mengendus tempat ini. Aku ingin mati disini.

Desember 2011

0 komentar

Cerpen - Shimponi Kucing Malang


Namaku Lina. Aku adalah seekor kucing betina. Hidupku biasa saja seperti kucing lainnya. Baru dua hari ini aku melahirkan seorang anak. Namun entah apa yang terjadi sehingga anakku kini tak lagi bersamaku. Begitulah, sejak Ia menghilang aku selalu termenung disini sendiri. Menikmati hari-hariku dalam kesepian. Entah bagaimana caranya aku bisa menemukan anakku. Tak ada satu pun surat kabar yang mau mengiklankan beritanya. Setiap sudut kota ini kudatangi. Namun tak pernah ada titik jelas dimana Ia berada.

Pagi ini gerimis sudah menghilang. Mentari diam-diam mulai mengintip. Ayam-ayam tetangga mulai keluar mencari makan. Yah, ayam adalah seorang teman baikku. Ia selalu perhatian terhadap apa yang menderaku. Tapi sayang, Ia tak bisa membantu lebih banyak. Ia hanya turut berbela sungkawa atas apa yang menimpaku. Aku mengerti, karena mereka pun sibuk mencari makan dan menyelesaikan urusan mereka sendiri.

Dari balik pintu, Nyonya Erna keluar membawa sejumlah koper besar. Matanya kosong, kesedihan menyelimutinya sama sepertiku. Nyonya Erna adalah majikan ku yang sudah lama mengurus dan membiarkanku tinggal dirumahnya. Tapi setelah hari ini, beliau akan pergi meninggalkanku. Ia digugat cerai oleh suaminya. Putusan sidang sudah keluar dan hasilnya adalah mereka cerai. Betapa remuk batinnya pagi ini, sama seperti batinku. Ia diceraikan lantaran tak bisa mempunyai keturunan. Mereka sudah berumah tangga selama 10 tahun. Aku sadar, selama aku berada dirumah itu. Yang sering terjadi adalah pertengkaran antara suami istri itu. Hal-hal sepele bisa berujung menjadi masalah yang besar dan mengharuskan mereka beradu mulut sampai mengumpat dengan kata-kata kasar.

Kalau menurut kesimpulanku sih, semua berawal dari itu. Setelah beberapa bulan lalu melakukan tes, ternyata Nyonya Erna dinyatakan mandul. Dua adiknya yang lain pun dikabarkan demikian, tidak bisa mempunyai anak. Nyonya Erna berkali-kali memberi alternative kepada suaminya untuk mengadopsi seorang anak. Namun suaminya yang memiliki beberapa perusahaan maju selalu menolak usul tersebut. “Aku hanya butuh keturunan yang berasal dari darah dagingku sendiri. Aku butuh seorang anak yang bisa meneruskan dan memimpin perusahaan-perusahaanku kelak. Buat aapa aku susah-susah bekerja dari pagi ampe malam kalau toh akhirnya aku tak punya keturunan”. Begitulah, dia selalu berkata demikian dan ujung-ujung Nyonya Erna akan menangis lirih dan begitu dalam. “Apa yang bisa kuperbuat Tuhan, apa yang bisa kulakukan agar suamiku bisa mengerti dan faham bahwa engkau masih belum memberiku anak?” pertanyaan it uterus berulang terdengar dari bibirnya yang sesekali terkena tetesan air mata yang jatuh dari mata dan menetes dari pipi dan sampai ke bibirnya.

Setelah koper-koper diangkat oleh sopir ke dalam mobil. Nyonya Erna menghampiriku. Ia tersenyum dan membelai-belai rambutku. Ia tampak sedih karena harus kehilanganku. Ia akan kembali ke rumah Ibunya diluar daerah dan mungkin ini adalah terakhir kali kami saling melihat. Aku pun hanya terdiam. Betapa beban dan masalah-masalah ini begitu berat. Nyonya Erna memintaku untuk ikut dengannya. Tapi aku berniat untuk menemukan anakku terlebih dahulu. Ia pun begitu mengerti betapa kehilangan anak begitu sangat menyakitkan walaupun Ia sama sekali tak bisa mempunyai anak.

Setelah lama memelukku, Ia pun masuk ke dalam mobil. Desiran angin membawa mobil itu melaju dan perlahan menghilang dari tatapanku. Majikan yang teramat baik sudah pergi, kini saatnya aku bangkit. Harus berjuang untuk hidup dan menemukan anakku. Anakku yang terlahir dari perutku. Betapa aku merindukannya. Entah siapa yang telah merampas dan membuatku terpisah dengannya. Bayangkan saja, kurang dari satu hari aku bisa melihat matanya, aku belum bisa memberi makan. Ia sudah menghilang.

Hari menjelang siang. Matahari tepat berada di atas kepala. Ayam-ayam mulai berdiam dibawah pepohonan beristirahat. Pohon anggur di depan tampak kering. Sesekali menjatuhkan daunnya yang sudah tak mampu lagi berdiam di dahannya. Adzan zuhur tampak menggema dari cerobong-cerobong masjid. Aku melangkah pelan keluar dari gerbang rumah. Hari ini aku bertekad harus menemukan kabar tentang anakku. Siang itu aku berjalan dan terus mencari. Kota ini ramai juga, siang-siang masih banyak orang yang melakukan aktivitasnya. Ada yang asyik menjaga took boneka. Ada yang menjaga took sepeda. Bahkan sekilas ada yang tertidur karena kelelahan.

Begitulah manusia, mereka memiliki kesempatan luas untuk memenuhi kebutuhannya. Pekerjaan terlampau banyak buat mereka. Tapi kenapa dikoran-koran selalu diberitakan tentang banyaknya sarjana yang pengangguran. Tentang banyaknya remaja yang bunuh diri lantaran susah mencari kerja dan kebutuhan hidup tak terpenuhi. Entahlah, mereka mempunyai jalan fikiran masing-masing. Aku hanya bisa menyimak dari Koran yang kebetulan berserakan di Meja saat Nyonya Erna mulai enggan membaca. Tapi kenapa, untuk memasukkan iklan pencarian sebuah kucing tak pernah termuat. Apa manusia itu sudah tak peduli dengan kehidupan kami. Atau mereka menganggap kami tak pantas memiliki hidup.

Di depan sebuah toko buku, tanpa sengaja aku bertemu dengan Leo. Leo adalah seekor anjing tetangga yang begitu jahat. Ia berulang kali ingin mencelakanku. Bahkan pernah pula dia menggigit kakiku yang membuatku harus berdiam dan istirahat selama seminggu. Siang itu Leo tampak kebingungan, aku menatapnya dari jejauhan. “Sialan, semoga Ia tak melihatku”. Aku terus berucap do’a dalam hati.

Namun akhirnya dia mendekati juga. Mungkin bau ku sudah tak begitu asing tercium oleh hidungnya. Leo adalah seekor anjing rakus. Ia selalu masuk ke dalam rumah majikanku dan memakan apa saja yang bisa dimakan. Leo tak pernah peduli meskipun akhirnya ia sering kena lempar oleh para pemilik rumah. Kami pun berhadapan kurang dari satu meter. Matanya terlihat begitu buas dan nafasnya tak teratur terengah-engah. Seperti baru saja berlari menghindari kejaran Tuan rumah yang telah ia selinapi untuk mencari makan.

“Kamu kemana Lina?”

Aku hanya terdiam. Kenapa harus bertemu saat ini. Kenapa harus bertemu Leo disaat aku harus mencari anakku.

“Aku mencari sesuatu”

“Sesuatu ? apakah itu?”

“Tak penting kamu tau”

“ayolah Lina, siapa tau aku bisa membantumu”

Sorot matanya mulai beku. Entah kenapa, tumben hari ini ia tak galak. Tumben hari ini ia mau berdiskusi. Karena biasanya ia langsung menerkam dan mengejarku sampai aku kabur terbirit-birit. Akhirnya aku pun mencoba mengatakan semuanya padanya.

“Aku mencari anakku Leo”

Ia terkaget mendengar ucapanku. Matanya bening seperti ada air menggantung. Aku hanya terdiam melihat perubahan Leo setelah mendengar ucapanku. Baru aku tersadar dan mengingat. Beberapa bulan lalu Leo juga pernah kehilangan anaknya. Ia menemukan bangkai anaknya terkujur di dekat selokan rumah. Darah mengucur dari telinga dan matanya. Ia nampak terpukul setelah kejadian itu. Oleh sebab itulah ia mulai menjadi brutal. Ia seakan tidak terima dengan takdir yang menimpa anaknya. Ia mulai memangsa siapa saja. Ia mulai sering bikin onar di dalam rumah-rumah warga. Beribu cacian setiap hari terucap untuknya. Tapi hari ini aku melihat sosok berbeda dari dirinya. Ia hanya terdiam, sembari debu-debu jalanan menghampiri bulu-bulu ditubuhnya. Tanpa berucap lagi, ia pun melengok membalik arah meninggalkanku.

Aku masih tak bergeming, karena kakiku sudah mulai pegal menyusuri kota. Dan malam sudah menyapa. Rembulan bersinar pucat. Angin-angin bertiup segala arah. Para pedagang mulai menutup toko dan pulang beristirahat. Aku termenung sendiri. Perutku hanya terisi makanan seadanya. Sambil berlagu dalam hati, aku pun terlelap didepan sebuah toko mainan. Tak peduli dingin menyelimuti. Dan sesekali nyamuk membuatku terjaga dimalam hari.

****

Keesokan harinya, mentari sudah mulai keluar dari peraduan. Ayam-ayam terdengar berkokok dan jalanan sudah mulai terisi oleh lalu lalang kendaraan. Aku membuka mata dan terkaget. Disekelilingku, di rolling dor-rolling dor toko, dipersimpangan jalan, di setiap batang pohon tertempel iklan pencarian kucing. Lengkap dengan ciri-ciri dan alamat yang bisa dihubungi. Aku melihat beberapa kawanan anjing sibuk menempel iklan itu. Salah satu diantaranya adalah Leo. Aku tersenyum dan tak menyangka Leo sebaik ini. Aku pun berlari mendekatinya dan mengucap beribu terima kasih padanya. Leo hanya menjawab, “Terus berjuang kawan, kau harus bisa menemukan anakmu”. Ia pun tersenyum dan meninggalkanku.

Aku bersyukur ada yang mau peduli denganku. Aku bersyukur dan lebih semangat lagi untuk mencari. Aku mulai memasuki kawasan elit. Disana pun ribuan iklan itu sudah terpampang. Di pusat-pusat kota dan disetiap halte bis. Nampak seorang petugas kebersihan mulai mencabut iklan-iklan itu. Iklan yang mungkin menurut mereka bisa merusak pemandangan kota. Aku kecewa melihatnya. Betapa lelah kawanan Leo menempelnya dan dia tanpa merasa berdosa seenaknya mencabut dan membuang ke tong sampah.

Air mataku menitik. Betapa mereka tak mau peduli. Apalagi membantuku. Aku berjalan lagi. Tampak di samping kiriku seorang anak kecil dan Ibunya memandang poster iklan itu. “Bu, Lihat, kucing ini cantik sekali” sembari tanggan anak itu menunjuk poster itu. “Cantik? Biasa aja, apanya yang cantik, ayo jalan!” Ibu itu menarik tangan anaknya dan anak itu masih saja menengok poster itu meskipun ibunya memaksanya jalan.

Selama satu jam berjalan. Aku melihat kerumunan aparat berjaga-jaga. Memegang senjata lengkap dengan mobil-mobil baja. Ada apa sebenarnya, ribuan orang dari kejauhan menonton. Warga yang juga penasaran sama sepertiku. Setelah mendengar gonjang-ganjing warga yang berduyun-duyun dating. Ternyata hari itu terjadi baku tembak antara aparat dengan seorang yang diduga teroris. Seorang yang membawa bom dibadannya dan berniat mengebom istana Negara. Orang itu diseret beserta dua kawannya yang nampak sudah tewas. Darah mengucur.

Aku berlari ke pinggir jalan, menyelinap masuk dan dibalik gerbang itu aku menemukan sosok yang kucari. Yah, anakku, anak yang selama ini begitu kurindukan. Aku terkujur mendekapnya. Ia pun hanya tergeletak. Tak ada nafas. Darah juga mengucur dari teling dan matanya. Dadanya tertembus peluru. Aku meraung-raung menangis sekeras-kerasnya sambil mendekapnya. Badannya dingin kaku. Betapa aku merindukanmu Nak, dan aku menemukanmu dalam keadaan seperti ini.

Manusia-manusia itu berlalu lalang. Mereka masih saja tak peduli. Aparat-aparat yang berjuta mulai acuh dan sesekali kakinya menyenggol badan kami. Sebuah peluru menembus dadanya. Peluru nyasar atau apapun namanya, yang pasti anakku telah tiada. Hujan pun menetes membawa perlahan darah yang masih mengucur dari badannya. Awan tampak mulai gelap dan aku pulang membawa bangkainya.

Petir bergelegar. Aku terbangun dari mimpi. Mimpi yang teramat panjang. Mimpi yang mungkin bisa menjawab pertanyaanku tentang siapa yang membunuh anakku. Tanpa sadar, sudah sehari penuh aku tertidur pulas di atas kuburannya. Aku pun terbangun dan merapikan kembang-kembang diatas kuburannya.

Desember 2011

 
;