Jumat, 30 September 2011 0 komentar

Muara Kenangan


Kutulis namamu digaris-garis pantai
Seiring pasir-pasir berterbangan di Pantai Air Manis
Seraya kita menatap ombak
Yang sesekali menegur ibu jari
dan memberi nyilu pada segenap rindu

Entah sejak kapan,
aku mulai menitip rindu padamu
Sejak pertemuan di Padang berbulan lalu
atau sejak ibu masih menggendong
dan sesekali mendongeng dengan bibirnya
tentang si Kancil dan Buaya

Harum tubuhmu masih sama, persis
saat kuselipkan setangkai mawar tujuh warna
ditelingamu dan dalam-dalam hatimu
diawal tahun lalu saat kita terdiam
dan memandang Kota Tua
diseberang jembatan Siti Nurbaya

Ah, biarlah kita terlelap
Semenit atau mungkin selamanya
Sebab takdir dan jarum jam akan tetap berjalan
dan membawa kita kembali ke muara kenangan

2011
Rabu, 28 September 2011 0 komentar

Padamu Ku Bercerita


Kita terkadang lupa

tentang warna-warna itu

dan beberapa not yang tak berirama

sehingga kita berbeda terlalu jauh

dari sebuah keasingan dan kerinduan


Cinta terkadang begitu

maka jangan disimpan erat-erat

biarkan ia mengalir dari helai-helai rambut

atau menetes dari sela-sela jarimu

hingga ia berhenti sendiri

pada seorang yang bisa memaknaimu


Akan kukatakan saja hari ini

tentang keraguan dan keresahan

tentangmu yang mungkin akan

menikah dan beranak dengan lelaki lain

dan aku mulai menjauh dari surga itu sendiri


29 September 2011

Jumat, 23 September 2011 0 komentar

Pemberian Tahu


Karya : Chairil Anwar

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan,
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

(Puisi Favorit Saya)
0 komentar

22 September 2011


Celebrate Day


Kita akan selalu menyebutnya malam

saat rembulan muncul diperaduan

atau saat-saat lampu jalan mulau berkilauan

sepuluh kali atau beberapa kalipun

jalanan ini tak pernah memberi rasa bosan

dan hanya menyisakan berjuta kerinduan


aku begitu mengenangnya, dikala lilin menyala

atau saat sang ibu malu-malu bicara

menyajikan teh hangat dan sepiring roti

ruang ini lumayan gelap, dan kau penerangnya

melihat senyum atau suaramu yang mengendap

membisik dan sesekali tertawa memaknainya


sesekali juga aku ingin melihat cermin dimatamu

sambil menulis sajak dengan helai rambutmu

atau menatapmu sesaat dengan tersenyum

sebelum kau tutup pintu dan kian berlalu

sebab di surga nantipun aku mungkin tak menjumpaimu

dan hanya pada matamu aku bisa melihat diriku seutuhnya


Solong, 22 September 2011

Selasa, 20 September 2011 0 komentar

Untuk Habib Fansury


Kau datang lagi dengan sorot mata yang sama

seperti lima tahun lalu, datang memintaku

membawa anakmu yang telah ditinggal bapaknya

memohon padaku menikahimu dan menjadikanmu

perempuan kedua, karena aku telah hidup

dengan seorang istri dan anakku

Yang menurutku begitu cantik dengan mata berbinar


betapa seutas hati sedikit tak bergetar

dan darah disekujur tubuhku sedikit tak mencair

betapa kau terlupa, atas apa yang kau ucap

bagaimana kau pergi membiarkanku sendiri

menangis dalam malam sepanjang enam kilometer

atas permintaanmu membelikan sebuah kulkas

dan rice cooker yang waktu itu aku belum mampu


kembalilah, disini sudah bukan rumahmu

betapa langkahmu kian goyah dan lunglai

dan aku sedikit tak bermaksud menegakkannya

apalagi berniat merangkulmu kembali

aku terlalu bahagia dengan hidupku kini

0 komentar

Hada di Bawah Pohon Anggur


dibawah pohon anggur, ia masih memakai baju itu

baju tanpa lengan berwarna putih bercampur debu

jauh dari ice cream padle pop ataupun sepeda mesin

ia hanya bermain dengan sebilah kayu memetik buah anggur


gadis kecil lima tahun itu bernama Hada,

setelah ia memperkenalkan dirinya setengah jam lalu

ia memberiku dua biji buah anggur, entah apa maknanya

dengan senyum manis dan lantas ia berlari

kebawah pohon anggur menemani adiknya


kali ini aku melihat surga jauh dimatanya

sebelum waktu kerap membawanya ke seorang lelaki

dimana ia akan menangis setelah dipatahkan hatinya

atau tersenyum saat cinta pertama menghinggapinya


entahlah, ia belum mengerti jauh dunianya

yang ia tau hanyalah menikmati buah anggur yang jatuh

dan tercampur oleh debu, tanpa ragu memakan

dan tersenyum puas lantas mengusap keringatnya

sebelum malam memaksanya untuk pulang kerumah

rumah yang membuatnya tersadar bahwa ia masih anak kecil


18 September 2011

0 komentar

Musim Hujan Tahun Lalu


Suatu saat nanti, aku ingin menikahimu

menjadi lelaki yang akan tidur disampingmu

yang membenarkan letak bantalmu

saat posisi tidurmu mulai tak nyaman


atau mungkin menemanimu memberi makan ikan

yang kita pelihara di kolam belakang

dengan bunga-bunga mekar disekitarnya

yang senantiasa kau lihat, saat aku

mulai beranjak kerja dan anak-anak mulai bersekolah

belajar membaca dan mengeja namanya sendiri

disaat hujan menyisakan hujan

dan embun terlalu enggan memberi teduh


suatu saat nanti, entah kapan itu

aku ingin duduk bercerita dan kau disampingku

bagaimana tingkah si Dadang saat ia menangis

atau bagaimana lucunya saat kau mendongeng

kepada anak kita yang masih berumur satu tahun


maka biarkan pintu rumah tertutup selagi ku tiada

karena aku lelaki pertama yang akan membukanya


Pancor, September 2011

0 komentar

Ketika Kau Bisu


Kita masih dalam gelap seperti meraba

maka biarkan tanganku erat memelukmu

biarkan tubuh kita menyatu membisu

menghembuskan nafas yang sama

kita terdiam dan lelah dalam senggama

berulangkali ataupun terlelap sama sekali

aroma kita bercampur, gerak kita memacu

seperti tengah menikmati dan menyesali

nasib yang sama bertahun lalu

biarkan daun-daun mawar itu layu

tak berair, kita jangan peduli sama sekali

sebab tubuh masih diingin didekap

dan bibir masih ingin dilumat atau dijilat

setiap apa yang kita perbuat adalah takdir

hingga titik-titik itu tak terasa

melebur dan mencair dalam wajahmu

bakar saja, aku mulai tak peduli

sebab aku sudah terbakar habis

jauh sebelum kau menyalakan api

didekat mata dan ujung kakiku

0 komentar

Perempuan Sasak


Dia berjalan masih mengenakan kebaya

berwarna putih dan bermotif bunga-bunga

dengan langkah-langkah kecil layaknya perempuan

terkadang tersenyum tatkala berpapasan

dia adalah perempuan sasak satu-satunya


dia adalah senjata saat bumi masih terjajah

dia adalah sebuah batu saat yang lain terkikis

bahkan terbuang dan bercampur aroma modern

tanpa make-up dan rambut panjang kian terurai

dengan sarung cantik melingkar dipinggangnya

dia adalah perempuan sasak satu-satunya


ditengah bangunan tinggi, dia masih berjalan menunduk

tanpa memamerkan paha atau membusungkan dadanya

tanpa peduli ribuan omongan masuk ditelinga

ia tetap berjalan membawa sekeranjang buah

yang akan dijual pagi-pagi bersama Ibu dan adiknya

dia adalah perempuan sasak satu-satunya

0 komentar

Perempuan Yang Terlupa


Ia datang dengan lekuk tubuhnya

dengan bungkusan berwarna merah muda

Ia adalah perempuan malam dalam gerimis

dengan gelang dan cincin di tangan

cincin seorang tunangan yang pergi setahun lalu


maka setiap gerak tubuhnya adalah air

akan kuhempaskan berulang dengan suara

telanjang, seperti bayi berumur satu bulan

tanpa pernah tau apa namanya dosa

namun yang terasa semua begitu seperti surga


maka perempuan itu kini bermain dengan matanya

sesekali menoleh dan mengeringkan air di pipi

yang tak mampu ia hapus hanya dengan tisu

dan kembali hilang dalam gelap-gelap hatinya


dalam redup-redup jiwanya, ia adalah sebuah merpati

yang pagi-pagi harus kembali sebelum ia berujung mati


Pancor, 7 September 2011

0 komentar

Kemarau di Bulan Syawal


Kali ini kemarau begitu lekat dimatamu
tak berair mata ataupun bermata air
hambar, sungguh tak berasa
empat puluh lima menit kau terdiam
beku, seperti bayi berumur satu hari
yang sesekali merengek dan manja
kepadanya yang duduk tiga puluh senti di depanmu

sebuah adegan harus kutonton berulang
dari jarak kurang lebih dua meter
sunyi, hanya ditemani segelas teh hangat
yang tak mampu mencairkan kebekuan ini
yang dibuat dengan tersenyum oleh sang Ibu

Aku adalah petaka musim kemarau
dimana sang petani kerap menangis
dan terkadang juga menyesali dan harus
mau tak mau mencari mata air lain
yang lebih berair dan jelas muara tujuannya


Solong, 4 September 2011
0 komentar

Teriakkan Kata Itu Lagi


teriakkan kata itu lagi,

saat ranting-ranting kamboja berjatuhan

saat anak tujuh tahun menangis dikuburan

meratapi ibunya yang mati siang tadi


teriakkan kata itu lagi,

ketika sunyi menari ditepian hati

dan ribuan setan mulai singgah dikepala

dan bernyanyi-nyani dengan satu mata


teriakkan kata itu lagi,

saat bapak menghamili janda muda

saat seorang yatim piatu kian teraniaya

dan makan ayam hanya sekali setahun

teriakkan kata itu lagi,

saat ribuan ummat sujud tanpa masalah

saat tonggakan dibank terlupa oleh lebaran

dan seorang peminta masih terlelap diteras mesjid


teriakkan kata itu lagi,

ketika ayam berkokok dipagi hari

ketika segelintir perempuan mulai menjual diri

untuk membeli baju dan sepatu hak tinggi


Sungguh hanya ingin mendengar kata itu

dari cerobong mesjid atau dari bising jalan raya

bergumam, berdegup, bersuara dan berteriak lantang


Allahu Akbar,,,

Allahu Akbar,,,

Allahu Akbar,,,


dalam lelap malam dan dingin pagi


20 Agustus 2011

0 komentar

Lelaki Itu


Senja telah menukar ingatannya

tentang perempuan satu tahun lalu

perempuan hujan dengan mata yang tajam

yang sehari-harinya mengukir awan

dan menggenggam langit dalam tiap langkahnya

yang senantiasa bercerita tentang cintanya

dan sesekali menangis lirih di ujung malam


namun kali ini lelaki itu terdiam seperti bermain dalam lamunan

seakan lupa menghisap rokok yang masih menyala ditangannya

dan rambut itu tampaknya sudah tiga minggu tak disisir

sejak perempuan itu pergi bersama angin dibalik jendela kamarnya

jendela yang lusuh, dan sudah bertahun lamanya tidak dicat

jendela yang biasanya mengintip dan menebar senyum perempuan itu

yang terkadang membawa aroma mawar yang layu

mawar yang dibeli disebuah toko depan pasar lama


dan lelaki itu adalah malam

malam yang dingin, malam yang gelap

malam yang senantiasa mengubur mimpi-mimpi

dan malam yang bisa membuat mati dan tak bersisa


Agustus 2011

0 komentar

Jalan-Jalan Kecil


Kali ini kau masih terdiam dibawah gerimis

sesekali mengeringkan ujung rambutmu yang basah

kebimbangan menggantung diwajahmu

dilema,lebih tepatnya disebut

menentukan jalan mana akan kau tempuh

kau masih terdiam dipersimpangan itu

setelah sekian lama kau berlalu

meninggalkan rumah kecil dihatiku


rumah sederhana dengan dua kamar tidur

dan sebuah teras yang lumayan nyaman

disekelilingnya ditumbuhi pohon bonsai

dan bunga mawar dengan tujuh warna

yang dibelakangnya terdapat danau,

dimana ikan-ikan biasa bermain

dengan bocah yang masih belum punya nama


aku masih duduk dengan rokok dan segelas kopi

kali ini aku tak mendekatimu sedikitpun

bahkan enggan untuk sekedar menyapa

karena aku yakin kau sudah dewasa

dan tau kemana akan kau tapakkan langkahmu


namun sungguh sedikitpun aku tak menghalangimu

jika kelak kau putuskan membalik arah dan menapaki lagi

jalan-jalan kecil menuju rumahmu dihatiku


Agustus 2011

0 komentar

Sahur dan Ibu


ketika pagi masih lengang

hanya terdengar suara dari speaker mesjid

sahur... sahur...sahur

seorang ibu terbangun dan memasuki dapur

dengan sarung lusuh yang tujuh tahun lalu

dibeli di pasar lama, sebelum dipindah ke terminal

pasar dimana bapak biasa berdagang setiap paginya

pasar yang juga memaksanya untuk jadi penganggur


kali ini ia memasak tempe dan tahu

membuat secobek sambel dengan aroma khasnya

walau mata masih ngantuk ia tak pernah mengeluh

seperti saat mendongeng anaknya ketika masih balita

tentang si kancil dan buaya yang berulang ia ceritakan


disaat semua telah terhidang ia mulai membangunkan

mulai dari suami yang sudah dua puluh sembilan tahun lalu bersamanya

kemudian anak-anaknya yang masih bermain dalam mimpi

ia tak pernah meminta anaknya untuk mencuci piring terlebih dahulu

atau menghangatkan sayur bayam sisa makan semalam

ia hanya berkata, makanlah sambil tersenyum kecil

surga terasa dekat dan menggantung dimatanya


makanan harus disantap pagi ini, makanan yang kita sepakati

harus mengakhirinya sebelum adzan subuh menggema

0 komentar

Surga Lain Selain Hatimu


Selamat...

kau bisa membuatku jatuh cinta

berulang kepadamu


tanpa perlu kau melebur karang lautan

dan tanpa perlu kau mendaki gunung

aku sudah melebur dalam anganmu


betapa ingin melihat pelangi itu

muncul dalam bening matamu

yang sesekali berubah warna menjadi biru

atau sekedar melihat garis-garis tawamu

dalam butiran hujan dan rimbun dedaunan


betapa sulit menjatuhkan mangga dari hatimu

dan menanam ribuan kamboja yang dititip Ibu pagi tadi


membuahkan kebimbangan, apakah aku harus

mencari surga lain dan keluar dari hatimu

0 komentar

Surat Tak Tersampaikan


Luka itu kian menganga, aisha

dengan balutan-balutan kecil tak berwarna

dan darah kian menetes menjauhi surga


deburan ombak kian tak berasa

menghempas dan sesekali menelanjangi

apakah kau pernah mengerti, aisha


ada kicauan rindu dan ada gumpalan marah

karena kau pergi meninggalkan segala

membuatku terasing dari Tuhan dan cinta


memaknai surga dan neraka, aku mulai tak peduli

hanya ingin berjalan pada mimpi, sesekali terbangun

namun engkau terdiam dan mati dalam embun


Juli 2011

0 komentar

Rindu Adalah Rindu


Rindu adalah sebuah pedang tajam

berkarat dan menempel dekat di ujung leher


Rindu adalah makanan yang dipenuhi lalat

dan terpaksa dimakan karena perut kelaparan


Rindu adalah tangisan bayi sepuluh hari

yang lahir tanpa bapak di hari lebaran


Rindu adalah kecemasan hati seorang Ibu menunggu

anak perempuannya yang belum pulang jam sebelas malam


Rindu adalah tatapan kosong bocah enam tahun

di depan toko es krim, tanpa uang sepeser pun dikantong


Rindu adalah jeritan perih seorang janda muda

menangisi kematian suaminya diatas kuburan malam-malam


Rindu adalah sajadah lusuh yang tak pernah terpakai

yang masih menggantung di dinding kamar dua tahun lalu


Rindu adalah detak jarum jam beku sore-sore

sementera perut keroncongan menanti saat berbuka


Rindu adalah tubuh yang menggigil

menanti hujan ditengah musim kemarau


maka, ikhlaskanlah rinduku membelai-belai relung hatimu

menghitung jumlah helai-helai rambutmu, memaknai

setiap jengkal tubuhmu dan menghirup aromanya

mesra, karena kau pun pasti tau betapa rindu terlalu menyiksa


Sabtu, 6 Agustus 2011

0 komentar

Cerita dari Matamu


Aku mulai terlupa

akan warna-warna pelangi di matamu

yang bermunculan seusai gerimis

yang berkilauan seumpama emas

hijau, biru, ungu, seakan semua mengabur

dan tertumpah dalam debur

dibalik dedaunan hijau, dan bocah-bocah

asyik bermain di kali siang-siang


seperti beberapa bulan lalu

kau berulang menjatuhkan hujan dimatamu

mengalir pelan di pipi dan menetes digaris-garis bibir

yang akhirnya bermuara di laut biru

laut yang kusamai maknanya dengan hatimu

luas dan belum begitu kutau


Yah, sudah sekian lama aku tak menatap matamu

dan kuputuskan harus segera menatapnya hari ini

dengan mengintip diam-diam, atau bahkan

beradu pandang walau sedetik

karena hanya dengan menatap matamu

aku akan tau jalan pulang


03 Agustus 2011

0 komentar

Surat Tiga Tahun Lalu


Kau hanya terdiam dalam pagi

kaku, bagai daun tak tersapa embun

kau baca lagi surat tiga tahun lalu

dari seorang lelaki yang mencintaimu dengan hati


Surat itu masih harum, tak berubah

meski terkikis hujan dan ditemani rayap

surat yang tertumpuk antara buku-buku lama

dan album foto usang pernikahanmu

dengan lelaki yang pergi tanpa pesan

membiarkanmu sendiri dengan bayi berumur satu tahun


dalam-dalam matamu, dapat tertangkap harapan

semoga lelaki tiga tahun lalu datang menyinggahimu

menjadi cahaya jiwa dan penyeka air mata


Juli 2011

0 komentar

Hujan dalam Kamarku


Aku selalu menunggu dan mengagumi hujan

Sebab hujan bisa saja membawa senyummu

Tepat didepan mata tanpa harus bertemu

Atau membawa bayangmu mengintip

dari balik jendela kamarku yang mulai pudar warna catnya


seperti malam ini, kau bermain disudut-sudut kamarku

gemerincik hujan jauh membawa kakimu kesini

dan bergoyang dengan merangkul boneka ditangan

boneka yang sering kau bawa saat terbit purnama


kau tampak lebih gemuk hari ini

apakah karena hujan mengaburkan pandanganku

atau kau terlalu bahagia sehingga tumbuh begitu cepat


entahlah, yang pasti aku masih merindumu

seperti menunggu hujan malam ini

hujan yang terbiasa membasuh jiwaku

jiwa yang berbulan-bulan kering tanpa sentuhmu


Dirumahku, Selong, Juli 2011

0 komentar

Kabar di Terminal


ada bayi menangis lagi

dalam kantong plastik, dalam bak sampah

bayi yang berumur lima hari

dengan tai lalat manis di kening


bayi yang tak mau diakui bapaknya

bayi yang malu dibawa pulang Ibunya

tanpa seorang lelaki yang menghamilinya sepuluh bulan lalu


Hari ini ada bayi menangis lagi

tangisnya begitu perih dan takut

sementara seorang nenek memainkan serulingnya

berirama tentang cinta dan kesedihan


Awal Agustus

0 komentar

Won (Sebuah Pernyataan)


Aku masih saja mengintip hatimu
dari balik kaca, luar jendela, balik pintu
dan dari apa saja yang bisa membuatmu
sedikit saja mengingatku dihatimu

setiap halaman hatimu kubaca satu persatu
ada sedetik waktu tuk bisa berpadu
dan sejurang jarak yang bisa memecah

aku begitu hafal semua nyanyianmu
dan aku begitu tau sedetil warnamu
karena aku diam-diam menaruh hati padamu


20 Oktober 2010
 
;