Minggu, 27 November 2011 3 komentar

LOMBA MENULIS PUISI NASIONAL KOMUNITAS RUMAH SUNGAI (KMRS)

(Menumbuhkembangkan Sastra Melalui Penerbitan Buku)

Sejak berdirinya pada tanggal 23 Juli 2008, Komunitas Rumah Sungai Lombok Timur tidak henti-hentinya menggaungkan perkembangan sastra di NTB, khususnya di Lombok Timur. Berbagai acara sastra dan kesenian kerap digelar, baik berupa acara-acara workshop / pelatihan sampai pada acara-acara yang berupa pementasan panggung. Ini semua tiada lain hanya dimaksudkan untuk terus menggeliatkan perkembangan sastra yang sudah ada, terutama pada kalangan muda. Dan untuk itu sebagai komunitas yang ada di Indonesia, Komunitas Rumah Sungai pun bermaksud mengadakan lomba Menulis Puisi Nasional. Lomba ini dihajatkan untuk menumbuhkembangkan Penulis-Penulis Muda se-Indonesia, yaitu melalui Buku Antologi Puisi yang akan diterbitkan nantinya. Adapun ketentuan lomba menulis puisi nasional ini adalah sebagai berikut :

Ketentuan Umum

1) Peserta berwarga Negara Indonesia dengan melampirkan Identitas Diri (SIM, KTP, Kartu Pelajar, dan lain-lain)

2) Tidak ada batas usia.

3) Tema Puisi bebas. Naskah puisi tidak boleh bersinggungan dengan unsur SARA,Pornografi, Narkoba maupun sejenisnya.

4) Naskah puisi ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD), tidak menggunakan bahasa SMS.

5) Karya tidak pernah dipublikasikan di media cetak dan tidak sedang diikutsertakan dalam lomba yang sejenis.

6) Diharuskan bergabung di grup Komunitas Rumah Sungai. Dengan mengklik link ini http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/groups/kmrslotim/

7) Mengcopy paste pengumuman ini ke dalam catatan facebook dan menandai minimal 20 orang.

8) Melampirkan Biografi singkat Penulis dan nomer kontak di akhir naskah puisi.

9) Biaya pendaftaran hanya Rp. 10.000,- untuk satu judul puisi. Semua peserta boleh mengirimkan tulisan lebih dari satu judul puisi (maksimal 5 judul puisi).

Ketentuan Khusus

1) Bila Karya dikirim via email :

  • Naskah puisi ditulis dengan kerta A4 dengan Font Times New Roman spasi 1,5
  • Puisi dikirim ke email rifatkhan21@ymail.com dengan nama file Lomba Puisi_Nama Penulis, dan melampirkan scan Foto copy identitas diri dan bukti sudah membayar pendafataran.
  • Uang Pendaftaran dikirim ke rekening BRI : 4737-01-008429-53-0 atas nama Effendi Danata.
  • Pengiriman karya paling lambat tanggal 28 Februari 2012 pukul 24.00.

2) Bila karya dikirim lewat POS :

  • Naskah Puisi dikirim ke alamat : Rifat Khan (NW Net) Jalan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Depan SMA NW Pancor) 83611 Selong, Lombok Timur, NTB. Dengan melampirkan Identitas diri dan uang pendaftaran.
  • Naskah boleh ditulis tangan, akan tetapi alangkah baiknya diketik dengan kertas A4 spasi 1,5.
  • Pengiriman karya paling lambat tanggal 28 Februari 2012.

Hadiah

1) Juara 1 : Tabungan Rp. 700.000,- Piagam dan Buletin Embun

2) Juara II : Tabungan Rp. 500.000,- Piagam dan Buletin Embun

3) Juara III : Tabungan Rp. 200.000,- Piagam dan Buletin Embun

4) Juara Harapan I mendapat Tabungan Rp. 100.000,- Piagam dan Buletin Embun

5) 100 Puisi terbaik akan dipilih dewan juri dan akan dibukukan menjadi Antologi Puisi.

Pengumuman pemenang akan diumumkan secara terbuka pada tanggal 17 Maret 2012 di Grup Komunitas Rumah sungai dengan link http://www.facebook.com/?ref=tn_tnmn#!/groups/kmrslotim/ Blog Rifat Khan dengan link http://rifatkhanblog.blogspot.com/ dan Radio-radio Lokal Lombok.

Hal-Hal yang belum jelas dapat ditanyakan dengan kontak Facebook melalui :

Effendi danata

Rifat Khan

Fatih Kudus Jaelani

Amier Fawaz

Atau Nomer kontak :

087763151315 (Rifat Khan)

081918215184 (Effendi Danata)


Tertanda,

Panitia Lomba

Jumat, 18 November 2011 0 komentar

Percakapan dengan Hati


(1)

Tembok-tembok rapuh. Seutas senyum tersirat dalam lukisan. Perempuan cantik dengan kebaya di badan. Rambutnya lurus hitam dan harum. Dibalik jendela, aku bisa menangkap raut mukanya. Menggenggamnya sesaat dan membiarkannya terbang lepas. Aku lelah. Aku muak dengan segala rindu yang kian tak berujung. Aku penat dengan segala mimpi yang berujung sepi. Lantas kututup jendela, bayangnya mulai menjelma disudut-sudut kamar. Mengajak menari dan bernyanyi la la la. Sesaat kami terdiam. Dan angin membisik tepat ditelinga. Aku adalah nyata, aku adalah kerinduan bukan semu belaka. Dekap aku dan lantas kau akan bahagia. Sekilat cahaya mulai memudar dibalik jendela, dan Ia menghilang dalam malam.

(2)

Di warung kopi. Kopi akan kutuang dalam segelas air. Menatap jalanan sepi dimatamu. Tiba-tiba hatiku berbisik, aku lelah sebenarnya. Aku tak peduli apa yang ia katakan. Kuteguk kopi yang mulai harum. Sembari menatap gadis berbaju kuning. Bodinya bohai melenggok ke kiri ke kanan. Wajahnya ayu dan bibirnya sejuk dipandang pun tak jemu. Tiba-tiba hatiku melompat, dan tepat berdiri di depan hidungku dan menunjuk kemataku. Ia berkata, sudahlah, jangan memandang gadis itu. Aku sudah penuh, tak ada ruang baginya. Aku sudah terisi oleh perempuan Otak kokok itu. Hmmmmm, aku sulit membungkam mulutnya. Hatiku terdiam, sementara tatapku sendu. Kopi di meja hilang dan aku berjalan melepasnya.

(3)

Alunan lagu sendu terdengar. Di kamar, nyanyian Hungaria yang berjudul Gloomy Sunday menembus dinding telinga. Iramanya pelan dan begitu sedih. Sementara jam di dinding menunjuk angka dua. Anjing melonglong. Bayang itu muncul lagi di sudut kamar. Melompat-melompat. Bayang itu adalah hatiku. Ya, ia mulai menatapku, mengajakku berdiskusi. Kutawarkan sebiji rokok, ia hanya diam tak mengambilnya. Ia duduk bersila di depanku. Kenapa kau terdiam ? Ia mulai bertanya. Aku hanya tersenyum membalasnya. Lantas ia berdiri dan memegang pundakku dan berucap, perempuan itu sudah lama menetap disini. Ia membangun rumah sederhana dengan bunga-bunga yang bermekaran. Apakah kau mau mengganti dia? Tiba-tiba Ia bertanya seperti itu. Aku memejamkan mata dan merapikan bantal. Ah, biarlah saja, biar waktu dan hujan yang akan menghapusnya. Kemudian Ia pun pergi dan berkata, “Dasar Bodoh, kau hanya bermimpi”.

(4)

Pada sebuah sisi jalanan, aku duduk tak berteman. Jalanan basah menitip rindu pada semangkok mie yang biasa dimasak Ibu. Aku tak berniat untuk pulang dan merajut sepi pada kamar yang sudah dua malam tak ku kunjungi. Tak mau lagi berdiskusi atau bertengkar kecil dengan hati. Lantas, tanpa menunggu atau memberi waktu. Kugenggam sepotong hati itu. Kuiris tipis-tipis dengan sebilah pisau. Kemudian kucecerkan di sepanjang jalan Pancor sampai menuju Joben. Berharap jika nanti perempuan itu berjalan keluar rumah. Ia akan memungutnya satu persatu dan memberikan utuh lagi padaku. Aku tertawa bisa mengalahkannya. Namun ragaku seakan berjalan menuntun pada kematian.

Nopember 2011

0 komentar

Malam Senandung Hujan


Berdiam dikamar. Aku mulai tak peduli tentang jalanan yang riuh. Atau tentang teman-teman yang menikmati kopi diguyuran hujan. Aku akan berdiam membuat puisi. Sebab puisi-puisiku telah lama mati. Sejak kau tinggal pergi dengan air mata. Subuh-subuh sebelum kubuka pintu dan jendela.

Nopember 2011

0 komentar

Kereta yang Membawamu


: Fatih Kudus Jaelani

Sebelum sore, aku akan menata kamar ini. Menyambutmu datang. Dengan bunga-bunga melati dan hiasan indah di ranjang. Sebab kereta akan membawamu kembali. Sehabis singgah di Banyuwangi, rehat di Bali, dan kau akan kembali ke kamar ini. Melepas ransel dan membuka sepatu yang dua minggu tak kau ganti. Sebelum sore, aku akan berdiam dan menyiapkan sesajen. Agar kau mengingat, bahwa hidup memang seperti ini.

Nopember 2011

0 komentar

Di Musim Hujan


: Amril Ayuni

Matamu akan kukenang. Pada gemerincik hujan atau pada air yang menggenang. Pada daun-daun yang basah dan pada nyanyian kodok seusai hujan. Matamu akan kubaca. Pada sapaan petir dan mendungnya awan, dan pada jalanan basah disepanjang luka. Sebab matamu adalah arah. Aku akan berjalan menujunya dan berhenti berpijak dikelopaknya. Matamu bisa kusebut rindu yang menyala. Yang menggonggong serta memanggil hatiku. Karena dalam matamu, aku melihat diriku. Jauh sebelum kau terlelap dan hidup bersamanya.

Nopember 2011

0 komentar

Setangkai Bunga di Ujung Rindu


: Amril Ayuni

Perempuan. Sebagai bunga mekar dalam ranjang. Sebagai degupan jantung tatkala sepi. Ia kupandangi lekat. Hidungnya mancung. Bibirnya tipis dan matanya bening. Lembut. Suaranya kali ini gemetar. Sementara pipinya memerah memendam tanya. Kemana setangkai bunga yang kuberi seminggu lalu. Pada sisa-sisa rindu di penghujung musim hujan. Bunga mawar merah bertangkai sayu. Apakah ia sudah mekar atau layu kian terabaikan. Ia menghela nafas. Sorot matanya sama seperti Ibu dua hari lalu yang memintaku meminum segelas susu sebelum kuterlelap di atas ranjang.

Bunga itu telah jauh menari. Bunga itu kian mekar. Bunga itu tumbuh dengan penuh warna dalam cinta dan keindahan. Kemudian Ia terdiam tanpa senyum dibibirnya. Hanya matanya tak mampu berbohong. Karena aku tau pasti Ia telah lama mekar bersama lelaki itu.

Nopember 2011

0 komentar

Aku Menunggumu di Titik Itu


: Amril Ayuni

Menunggumu tak lepas dari janji. Semai rindu kian menari dan hati tak berdegup sepi. Hanya gemerincik hujan membasuh sunyi. Yah, menunggumu di titik itu, dalam padang ribuan pilu. Dalam kicauan burung di puncak Rinjani dan pada batas-batas mimpi yang kian terbunuh pasti. Berharap kau datang. Dengan rambut terurai basah. Pada hidungmu yang mulai samar tak bisa kugambar nyata. Tapi menunggumu ribuan musim, aku mulai jenuh. Aku akan berujung pada rindu. Rindu yang tak berlagu dan merintih kelu.

Senin, 07 November 2011 0 komentar

Jam Tiga Malam


Ting ting ting. Tiga kali jarum waktu itu berbunyi. Kau masih bersembunyi dalam tubuhku. Masih mencium aroma nafasku. Kau terkadang gemetar dan lupa bertanya. Bahwa waktu sudah terlampau jauh untuk kita bercerita dan bercinta. Waktu sudah mendekap kita dalam ribuan detik. Jangan tanya hari esok, sebab esok kita akan terpisah lagi. dan nafas kita akan saling mencari. Pada jam-jam lainnya dan pada jalan-jalan yang dulu pernah mempertemukan kita.

Nopember 2011

0 komentar

Kutatap Luka di Matamu


Alunan lagu itu mulai terdengar. Sebuah lagu lama. Dengan penyanyi yang nyentrik dan badannya kurus tak berisi. Lagu itu sering kau nyanyikan. Ketika kekasihmu hilang dalam senja. Matamu terlalu berair, sering aku berkata demikian. Keringkan dan lantas kau akan berkata, aku kan perempuan, jadi pantas menangis. Sesaat kau akan tersenyum walau rintik-rintiknya masih menetes dipipi. Aku suka memandang luka dimatamu. Berair, memang. Karena kau tak mampu mengeringkannya setiap tahun. dan aku akan selalu menatapnya hingga senyum itu kau tuang dalam segelas air. Akan kuminum, kuhabiskan segera. Tak bersisa.


Nopember 2011

0 komentar

Menjelang Maghrib di Bangle


(Sebuah Catatan Kecil)

Menjelang Maghrib di Bangle. Tuhan menamparku pada bocah yang masih ingusan. rok merah seragam sekolah masih ia kenakan. tampak debu dan keringat dipipi. mulutnya tak henti memakan bakso tusuk harga lima ratus. tak peduli hidup besok akan membuatnya menangis. di bangle, sebelum Joben. burung-burung bernyanyi dengan nada dua perempat. sesekali singgah di atas genteng sekolah. sekolah dasar dengan kelas sederhana dan begitu minim. tak ada halaman dengan bunga-bunga. tak ada ukiran indah dan tembok yang bercat rapi.

Berdiam disini. angin seakan berbisik. memaksa tuk menapak lebih jauh lagi tentang seorang Ibu dengan tujuh anak dan suami telah lama membeli sebuah rumah di bawah kamboja. atau seorang kakek tua yang masih menjadi kuli sawah walau kaki dan tangan sudah tak kuat berpegang. kemana anak-anaknya? anak-anak yang harusnya memberi makan dan memberi mimpi indah sebelum ajalnya menjelang.

Di Bangle. hidup berwarna hitam putih. hidup sulit dipikul dan terlalu berat untuk ditinggalkan.

Bangle, 03 Nopember 2011

0 komentar

Kepada Ibu


(Yang Tua dan Lelah)

Ibu. diburu waktu jejak kakimu adalah rindu. dalam padang rindang tak bertuan. sejuta hati akan menyebut dan menjunjung tinggi namamu dalam terang dan gersang. dalam mimpi, sayangmu tiada bertepi. membalut sekian juta rindu. kau akan tetap tersenyum dan bertahta di kalbu. Ibu. untaian kata adalah do'a. kau selalu ajarkan itu. detak jantung adalah puja-puja bagi pencipta. itu petuahmu nyata. maka, ketika sore jalanan lengang dan sepi, tatkala pagi hari berganti. sujudmu tak henti mengucap do'a untuk anakmu. ditelapak kakimu ada surga. perkataan yang lama kudengar dalam pelajaran sekolah dan pengalaman nyata. Surga yang ingin kudekap dalam hidupku, hari ini dan nanti.

Ibu. saat raga harus lelah dan hati kian gelisah. maka biarkan aku memelukmu dan bersimpuh. menanti belaian dan harum nafasmu seperti berpuluh tahun lalu. tatkala aku sering menangis dan lelap dalam pelukmu. sembari kau mendongeng tentang kancil dan buaya. dongeng yang mengantarku menjadi dewasa. terimakasih Ibu.


Selong, 04 Nopember 2011

Rabu, 02 November 2011 1 komentar

Tiga Hari di Jogja


Di Malioboro. hati telah kau isi dengan mendung. dengan langkah malu-malu dan dengan senyum agak kaku. kau santap lagi sate di atas meja. memandang langit dan berharap pada hujan. sebab hujan adalah tangis, dan tangis itu adalah suatu do'a. seperti burung-burung berkicau memuja Tuhannya dipuncak Borobudur. menatap langit senja dan membuka ingatanmu. tentang wanita berbaju ungu dengan hati dipenuhi benih api. wanita yang memagutmu jauh dan memasungmu begitu erat dengan matanya. yah matanya, agak kehitaman seperti pasir. pasir di Pantai Siung. dengan aroma-aroma dan balutan kain putih bergores darah. darah para bidadari. yang membawa langkahmu menari dan berpijak di alun-alun kota Jogja. menikmati angin, angin yang tentunya tak sama dengan angin dalam kamarnya yang berhembus melalui sela-sela rambut dan harum ketiaknya. Rebahkan saja, nafasmu adalah tangisan abadi dan jejakmu adalah kepahitan duniawi. di stasiun tugu Jogja, kereta akan membawamu menepi ke ujung malam. dan menepi dari semua yang kau namakan cinta.

2 Nopember 2011
Ilustrasi Gambar : Gadis Kereta Api at Stasiun Tugu Jogja (By: Danoe Saputra)
 
;