Jumat, 18 November 2011

Percakapan dengan Hati


(1)

Tembok-tembok rapuh. Seutas senyum tersirat dalam lukisan. Perempuan cantik dengan kebaya di badan. Rambutnya lurus hitam dan harum. Dibalik jendela, aku bisa menangkap raut mukanya. Menggenggamnya sesaat dan membiarkannya terbang lepas. Aku lelah. Aku muak dengan segala rindu yang kian tak berujung. Aku penat dengan segala mimpi yang berujung sepi. Lantas kututup jendela, bayangnya mulai menjelma disudut-sudut kamar. Mengajak menari dan bernyanyi la la la. Sesaat kami terdiam. Dan angin membisik tepat ditelinga. Aku adalah nyata, aku adalah kerinduan bukan semu belaka. Dekap aku dan lantas kau akan bahagia. Sekilat cahaya mulai memudar dibalik jendela, dan Ia menghilang dalam malam.

(2)

Di warung kopi. Kopi akan kutuang dalam segelas air. Menatap jalanan sepi dimatamu. Tiba-tiba hatiku berbisik, aku lelah sebenarnya. Aku tak peduli apa yang ia katakan. Kuteguk kopi yang mulai harum. Sembari menatap gadis berbaju kuning. Bodinya bohai melenggok ke kiri ke kanan. Wajahnya ayu dan bibirnya sejuk dipandang pun tak jemu. Tiba-tiba hatiku melompat, dan tepat berdiri di depan hidungku dan menunjuk kemataku. Ia berkata, sudahlah, jangan memandang gadis itu. Aku sudah penuh, tak ada ruang baginya. Aku sudah terisi oleh perempuan Otak kokok itu. Hmmmmm, aku sulit membungkam mulutnya. Hatiku terdiam, sementara tatapku sendu. Kopi di meja hilang dan aku berjalan melepasnya.

(3)

Alunan lagu sendu terdengar. Di kamar, nyanyian Hungaria yang berjudul Gloomy Sunday menembus dinding telinga. Iramanya pelan dan begitu sedih. Sementara jam di dinding menunjuk angka dua. Anjing melonglong. Bayang itu muncul lagi di sudut kamar. Melompat-melompat. Bayang itu adalah hatiku. Ya, ia mulai menatapku, mengajakku berdiskusi. Kutawarkan sebiji rokok, ia hanya diam tak mengambilnya. Ia duduk bersila di depanku. Kenapa kau terdiam ? Ia mulai bertanya. Aku hanya tersenyum membalasnya. Lantas ia berdiri dan memegang pundakku dan berucap, perempuan itu sudah lama menetap disini. Ia membangun rumah sederhana dengan bunga-bunga yang bermekaran. Apakah kau mau mengganti dia? Tiba-tiba Ia bertanya seperti itu. Aku memejamkan mata dan merapikan bantal. Ah, biarlah saja, biar waktu dan hujan yang akan menghapusnya. Kemudian Ia pun pergi dan berkata, “Dasar Bodoh, kau hanya bermimpi”.

(4)

Pada sebuah sisi jalanan, aku duduk tak berteman. Jalanan basah menitip rindu pada semangkok mie yang biasa dimasak Ibu. Aku tak berniat untuk pulang dan merajut sepi pada kamar yang sudah dua malam tak ku kunjungi. Tak mau lagi berdiskusi atau bertengkar kecil dengan hati. Lantas, tanpa menunggu atau memberi waktu. Kugenggam sepotong hati itu. Kuiris tipis-tipis dengan sebilah pisau. Kemudian kucecerkan di sepanjang jalan Pancor sampai menuju Joben. Berharap jika nanti perempuan itu berjalan keluar rumah. Ia akan memungutnya satu persatu dan memberikan utuh lagi padaku. Aku tertawa bisa mengalahkannya. Namun ragaku seakan berjalan menuntun pada kematian.

Nopember 2011

0 komentar:

Posting Komentar

 
;