Rabu, 27 April 2011

Sajak-Sajak di Montong Betok


Untuk Yang Sakit dan Lelah


nyanyikan sebuah lagu, walau bibirmu kelu dan matamu sayu
tentang malam dan langit mendung, tentang cinta dan pengharapan

sekali lagi aku minta, walau infus masih membalut kulit
tegarkan hati, karena hidup memang seperti ini, sulit

Gadis yang selalu menjadi inspirasi, baik hati maupun raganya
terbaring lemah dan bertarung melawan waktu, aku menunggu

sayap-sayap malaikat kian merangkulmu dan menina bobokanmu
ikuti nyanyiannya perlahan dan kau akan merasakan nyaman sentuhnya

ketika hujan dan segenap kerinduan menyelimuti gerak-gerak hatimu
yakinlah sehat itu datang bagai nyanyian burung yang selalu membelaimu

seperti daun, kau selalu memberi naungan, walau perih adanya
seperti hujan, kau selalu menyirami, walau akhirnya menggigit ujung leher

malam menunggu, bintang tergerak melantunkan do'a bagi pencipta
sembuhkan, walau dalam lelah tetap memohon sembuhkan selalu pintaku

Montong Betok, April 2011





Malam Ganjil di Hatimu


belum sempat kubaca seutas makna yang kau sirat
namun duka memang sudah nampak terlalu akrab
mengelus-ngelus dan mengupas satu irisan hati
berlabuh dan mengalir bagai air hujan di matamu
menetes dan membentuk satu kebimbangan dijiwamu, abadi

memang berat, diantara yang kau cinta dan mencintaimu
karena kemelut terbesar seorang perempuan seperti ini
aku mengingatmu sebagai sosok yang penuh akan kiasan
namun aku salah berada disaat dan waktu seperti ini
kugengggam saja sebagai pertanda ini perhatian terakhir, semoga

gerbang ini terbuka lebar seperti memberi jalan tuk segera pulang
tak baik ku berada terlalu lama dalam keresahan seperti ini
gerak hati dan tanganmu seakan berkata jangan tambah sakit ini
sorot matamu pun seakan pertanda kau tidak menghendaki ini
biarlah angin membawaku pergi dan mungkin tak kembali, rapuh

Montong Betok, April 2011




Bab Ketiga dalam Sajakku


Dia seperti malaikat, membelai dan menunggui pagimu
menyeka air mata dan menenteramkan sakitmu, selalu

jarum jam yang kupunya terbatas, meniti pada kesibukan
untuk segala mimpi-mimpiku tanpa harus mengabaikanmu
andai saja jarum jam yang kau beri bisa lebih, mungkin aku bisa
paling tidak hanya untuk sekedar menyamai apa yang ia beri untukmu

ketika fajar menghadirkan seberkas sinar
do'a itu mengalir seperti tetes hujan
basah, menerpa kekosongan
dan menikam semua kegelisahan dihatiku tentangmu
berharap duka itu terkubur dan terseret jauh
tanpa meninggalkan senyumnya
senyum seorang yang bagimu seperti malaikat
dengan dua sayap
yang terus merangkulmu
dan memberi indah pelangi dalam kelam jiwamu

"...aku tak punya sayap,," berulang kali kukatakan padamu
dengan segenap penyesalan akan jalan Tuhan yang dititip pada takdirku

selalu saja kau memberi satu senyum, entah apa maknanya
selalu saja kau memberi satu pengharapan,
yang selalu ditangkap riang oleh hatiku
mungkin hanya hatimu yang mampu berkata,
"Terima kasih sudah mencintaiku dengan caramu sendiri..."

bukankah hal terindah adalah ketika kita bisa mencintai dan dicintai
seperti mendapatkan angin surga yang meringis masuk dalam telinga
kaku, kau terdiam, dan lagi-lagi menatap ia yang bagimu malaikat
tapi mencintaimu memang suatu kewajiban bagi hatiku,
hatiku yang mungkin bodoh

"... Aku tak mau kehilangan kasih sayangmu.."
Sebuah pesan yang kau titip bersama angin senja itu
lantas tak sadarkah kau sudah menghilangkan sendiri sayang itu,
terkubur perih, menukik-nukik, mencincang
dan merampok segenap perasaan itu

" Maaf, terlalu sering membuatmu kecewa..."
memaksa hatiku untuk sekedar tersenyum
Yah, sebuah makna yang harus kufahami
dengan memutar otakku tujuh kali

memang,
Dia seperti malaikat, membelai dan menunggui pagimu
menyeka air mata dan menenteramkan sakitmu, selalu


Montong Betok, April 2011

0 komentar:

Posting Komentar

 
;