Di mata itu, ada ingatan tentang beberapa lilin
Nyanyian ulang tahun dengan irama tak merdu
Kue kecil yang bergeser tersapu liris gerimis
Wajah perempuan risau menyimpan butir tangis
Air mata yang terlampau tergenang dalam teh manis
Ia aduk sekali lagi dengan ketegaran dan kemalangan
Dua lelaki di depannya seperti buta akan jalan pulang
Karena pintu masih tertutup dan air danau tetap mati
‘Hati yang kau cari masih bermain dengan belahannya’
Begitulah pemaparannya dengan nada setengah suara
Sembari kue-kue ia benamkan dalam kilauan piring
Memandang lekat ke mata lelaki yang tampak kering
Dari sebuah pesan masuk,
“Pulang saja, kau takkan bisa menemuiku’
Perempuan setengah baya itu seperti tau
Rindu dua lelaki itu terbunuh pelan-pelan
Seperti danau yang menyimpan
sejuta kepedihan terdalam
‘Pulanglah Nak, Rindu itu akan menuntunnya padamu’
2012
Pernah kutemui cinta yang diam
Tanpa suara dan lembaran uang
Di kamar gelap ia biasa lelap
Melafaz-lafaz doa selepas sembahyang
Kuintal-kuintal beras terpajang
Penyambung hidup nan panjang
Hasil sawah yang tak mewah
Satu-satunya harta yang bersisa
Di teras berukuran sempit
Kasih sayangnya tak pernah terhimpit
Sesekali Pakde bertutur
sambil mengusap daki yang luntur
“Di rumah ini, aku pernah menanam cinta
Pada wanita sederhana yang kukenal di Sweta
Ia memintaku melamar tanpa uang selembar
Ia memintaku menemani hidup agar tak redup
Ia memintaku tegar saat gelombang hidup bergelegar”
Senyumnya mengembang tanpa bimbang
Mengenang istri yang lebih dulu berpulang
Sembari melirik sumur yang tampak berumur
bahagianya jatuh ke kopi tubruk setengah lumur
2012
Shubuh sekali, lelaki berjenggot tebal itu masih mencari Tuhan. Dikoyak-koyaknya sampah dipinggir kali, Tuhan tak muncul sesekali. Di dongakkan mukanya ke angkasa, Tuhan masih tak terasa.
‘Kau dimana?’ Sesekali bibirnya menggerutu berbisik kepada
batu. ‘Jawab aku Tuhan’. Teriaknya kencang dengan nada lancang. Mata merah
menampung gumpalan darah. Pipi mengkerut seiring air mata terlarut. ‘Kenapa kau
bungkam Tuhan?’ Apakah kau penguasa takdir yang getir. Apakah kau pembuat
cerita yang membuatku hidup terlunta. Apakah kau pengatur segala yang menuang
kisah hidup yang cela.
Ketika siang matahari bersinar riang. sesosok mayat ditemukan
di kali pertama kali. Seorang tua berjenggot putih dengan tatapan letih. Bola
mata beku serta kaki tangan kaku. Dada kurus tak terurus. Rambut gimbal beralis
tebal. Kerumunan orang berbisik tanpa mengusik, “Oh, Ia seorang gila. Setelah
sang istri kabur selepas menyuapi bubur. Anaknya yang bujang bunuh diri
telanjang. Hujan lebat tertinggal mewarnai panen tembakau yang gagal”.
Juni 2012
Secuil dendam tertanam pada kokok ayam
Membuat dua mata harus terbuka pagi buta
Pisau-pisau tajam terasah menanti di jendela
Gerak-gerak angin shubuh dingin merajalela
Ia harus pergi keluar pintu tanpa selimut
Mengayuh rindu pada meja berlumut
Karung-karung ia letakkan seperti mayat
Daging sapi mentah harus segera disayat
Potongan demi potongan ia gantung
Mulai kepala, kaki, leher dan jantung
Darah mengucur pada tanah berlumpur
Daging sapi segera dilepas dengan harga pantas
Maka, ujung mata pisau mulai berkarat
Seperti mata sapi tertutup dalam sekarat
2012
Aku masih menatapmu dengan cinta yang sama
Tiga tahun setelah kau berpamit berpaling muka
Di senyummu aku masih menemu telaga subur
Sebatang beringin rimbun dan tanah gembur
Kau membawa segumpal kenangan-kenangan silam
Saat cinta memaksa kita mengarungi malam kelam
Tanpa kasur, keramik dan sebuah sofa empuk
Hingga tahun ke tahun cinta kita semakin lapuk
Di matamu, peta itu masih tergambar rumit
rumah sederhana yang tak kuat menaungi hidup hingga mati
sejengkal tanah yang tak bisa terbagi untuk anak cucu nanti
Angin membisik sebaris sesalmu,
‘Aku ingin pulang, sebab malam terlalu dingin,
dan pagi adalah sesal terdalam. Sebab cinta yang kau tanam
membuat rindu menggebu. Sebab kasih yang kau beri,
adalah anugerah terindah yang baru kusadari.
Sebab bersamamu adalah tangis yang paling manis’.
Bara api di dadaku mulai padam
menghanguskan ribuan batangan dendam
2012
Mak, pagi tadi aku lupa sembahyang
Karena selimut lebih sejuk ketimbang wudhu’
Karena kasur terlampau empuk dari sajadah lusuh
Mak, apakah kau berdoa pagi tadi untukku
Atau mungkin mengutukku yang tak patuh atas pintamu
Yang tak pernah sujud dan jua mendo’akanmu
Air mata bening membendung tatapnya yang mendung
‘Nak, kau terlampau dewasa, hidup adalah pilihan nyata,
Rintik air mulai jatuh pada pipinya yang runtuh,
‘Nak, sembahyang adalah mensyukuri. Atas nafas dan hidup
yang diberi.
Sembahyang adalah pelindung baja. Bagi jiwa-jiwa kuat
bersahaja’.
Ringkik lemah tangannya kembali merapikan mukenah,
‘Nak, ada surga dan neraka, kau tinggal berjalan memilih
yang mana’.
2012
Lupa ku tempelkan selembar matre
Sebab cinta yang telah kubungkus
Adalah perasaan terdalam yang paling rakus
Aku mencintaimu,
Mungkin kata itu tak pernah sampai
Atau abjad-abjad penyusunnya terbang satu-satu
Tak jua singgah mengetuk-ngetuk hatimu
Mungkin pula, sebaris kata itu
Terlalu sederhana untuk kau fahami
Sebagai wanita
2012
Langganan:
Postingan (Atom)









- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact