Selasa, 17 Juli 2012 0 komentar

BIBI AYUNI



Di mata itu, ada ingatan tentang beberapa lilin
Nyanyian ulang tahun dengan irama tak merdu
Kue kecil yang bergeser tersapu liris gerimis
Wajah perempuan risau menyimpan butir tangis

Air mata yang terlampau tergenang dalam teh manis
Ia aduk sekali lagi dengan ketegaran dan kemalangan
Dua lelaki di depannya seperti buta akan jalan pulang
Karena pintu masih tertutup dan air danau tetap mati 

‘Hati yang kau cari masih bermain dengan belahannya’
Begitulah pemaparannya dengan nada setengah suara
Sembari kue-kue ia benamkan dalam kilauan piring
Memandang lekat ke mata lelaki yang tampak kering

Dari sebuah pesan masuk, 
“Pulang saja, kau takkan bisa menemuiku’

Perempuan setengah baya itu seperti tau
Rindu dua lelaki itu terbunuh pelan-pelan
Seperti danau yang menyimpan 
sejuta kepedihan terdalam

‘Pulanglah Nak, Rindu itu akan menuntunnya padamu’

2012

0 komentar

DI RUMAH PAKDE




Pernah kutemui cinta yang diam
Tanpa suara dan lembaran uang
Di kamar gelap ia biasa lelap
Melafaz-lafaz doa selepas sembahyang

Kuintal-kuintal beras terpajang
Penyambung hidup nan panjang
Hasil sawah yang tak mewah
Satu-satunya harta yang bersisa

Di teras berukuran sempit
Kasih sayangnya tak pernah terhimpit
Sesekali Pakde bertutur
sambil mengusap daki yang luntur
“Di rumah ini, aku pernah menanam cinta
Pada wanita sederhana yang kukenal di Sweta
Ia memintaku melamar tanpa uang selembar
Ia memintaku menemani hidup agar tak redup
Ia memintaku tegar saat gelombang hidup bergelegar”

Senyumnya mengembang tanpa bimbang
Mengenang istri yang lebih dulu berpulang
Sembari melirik sumur yang tampak berumur
bahagianya jatuh ke kopi tubruk setengah lumur

2012

0 komentar

PANEN TEMBAKAU YANG GAGAL




Shubuh sekali, lelaki berjenggot tebal itu masih mencari Tuhan. Dikoyak-koyaknya sampah dipinggir kali, Tuhan tak muncul sesekali. Di dongakkan mukanya ke angkasa, Tuhan masih tak terasa. Maka Ia berjalan tertatih, seperti kuda tak terlatih. Hingga sampai di pohon rimbun, merebahkan tubuhnya yang tambun. Lelaki Tua itu menyulut sebatang rokok, saat ayam-ayam sepakat berhenti berkokok. Asap-asap mengepul, pertanyaan-pertanyaan di otak kian mengumpul.

‘Kau dimana?’ Sesekali bibirnya menggerutu berbisik kepada batu. ‘Jawab aku Tuhan’. Teriaknya kencang dengan nada lancang. Mata merah menampung gumpalan darah. Pipi mengkerut seiring air mata terlarut. ‘Kenapa kau bungkam Tuhan?’ Apakah kau penguasa takdir yang getir. Apakah kau pembuat cerita yang membuatku hidup terlunta. Apakah kau pengatur segala yang menuang kisah hidup yang cela.

Ketika siang matahari bersinar riang. sesosok mayat ditemukan di kali pertama kali. Seorang tua berjenggot putih dengan tatapan letih. Bola mata beku serta kaki tangan kaku. Dada kurus tak terurus. Rambut gimbal beralis tebal. Kerumunan orang berbisik tanpa mengusik, “Oh, Ia seorang gila. Setelah sang istri kabur selepas menyuapi bubur. Anaknya yang bujang bunuh diri telanjang. Hujan lebat tertinggal mewarnai panen tembakau yang gagal”. 

Juni 2012
0 komentar

PENJAGAL SAPI



Secuil dendam tertanam pada kokok ayam
Membuat dua mata harus terbuka pagi buta
Pisau-pisau tajam terasah menanti di jendela
Gerak-gerak angin shubuh dingin merajalela

Ia harus pergi keluar pintu tanpa selimut 
Mengayuh rindu pada meja berlumut
Karung-karung ia letakkan seperti mayat
Daging sapi mentah harus segera disayat

Potongan demi potongan ia gantung
Mulai kepala, kaki, leher dan jantung
Darah mengucur pada tanah berlumpur
Daging sapi segera dilepas dengan harga pantas

Maka, ujung mata pisau mulai berkarat
Seperti mata sapi tertutup dalam sekarat

2012
0 komentar

SEPENGGAL HIDUP SANG DUDA




Aku masih menatapmu dengan cinta yang sama
Tiga tahun setelah kau berpamit berpaling muka
Di senyummu aku masih menemu telaga subur
Sebatang beringin rimbun dan tanah gembur

Kau membawa segumpal kenangan-kenangan silam
Saat cinta memaksa kita mengarungi malam kelam
Tanpa kasur, keramik dan sebuah sofa empuk
Hingga tahun ke tahun cinta kita semakin lapuk

Di matamu, peta itu masih tergambar rumit
rumah sederhana yang tak kuat menaungi hidup hingga mati
sejengkal tanah yang tak bisa terbagi untuk anak cucu nanti

Angin membisik sebaris sesalmu,
‘Aku ingin pulang, sebab malam terlalu dingin,
dan pagi adalah sesal terdalam. Sebab cinta yang kau tanam
membuat rindu menggebu. Sebab kasih yang kau beri,
adalah anugerah terindah yang baru kusadari.
Sebab bersamamu adalah tangis yang paling manis’.

Bara api di dadaku mulai padam
menghanguskan ribuan batangan dendam

2012
0 komentar

MAK, AKU LUPA SEMBAHYANG




Mak, pagi tadi aku lupa sembahyang
Karena selimut lebih sejuk ketimbang wudhu’
Karena kasur terlampau empuk dari sajadah lusuh

Mak, apakah kau berdoa pagi tadi untukku
Atau mungkin mengutukku yang tak patuh atas pintamu
Yang tak pernah sujud dan jua mendo’akanmu

Air mata bening membendung tatapnya yang mendung
‘Nak, kau terlampau dewasa, hidup adalah pilihan nyata,
Ada orang jahat dan baik. Ada kerikil tajam setia menghujam.
Ada iblis dan malaikat. Imanmu harus kuat melekat’

Rintik air mulai jatuh pada pipinya yang runtuh,
‘Nak, sembahyang adalah mensyukuri. Atas nafas dan hidup yang diberi.
Sembahyang adalah pelindung baja. Bagi jiwa-jiwa kuat bersahaja’.

Ringkik lemah tangannya kembali merapikan mukenah,
‘Nak, ada surga dan neraka, kau tinggal berjalan memilih yang mana’.

2012
0 komentar

AYUNI




Surat yang ku kirim lewat pos kemarin sore
Lupa ku tempelkan selembar matre
Sebab cinta yang telah kubungkus
Adalah perasaan terdalam yang paling rakus

Aku mencintaimu,
Mungkin kata itu tak pernah sampai
Atau abjad-abjad penyusunnya terbang satu-satu
Tak jua singgah mengetuk-ngetuk hatimu
Mungkin pula, sebaris kata itu
Terlalu sederhana untuk kau fahami
Sebagai wanita

2012
 
;